Rabu, 27 April 2011

Ratapan Gadis Kecil di Atas Kubur

RATAPAN GADIS KECIL DIATAS KUBUR
Pada waktu Hasan Al-Bashri sedang duduk didepan rumahnya , tiba-tiba lewat beberapa orang sedang mengusung keranda jenazah. Hasan pun segera bergabung dalam iringan itu
Dari belakang iringan itu , tampak seorang gadis kecil sedang berlri lari sambil menangis , menyusul  iringan itu . Ternyata gadis kecil itu anak dari jenazah yang sedang diusung .
" Ayah....." ! mengapa kau begitu cepat meninggalkan aku....! " teriak gadis kecil itu terus menerus hingga selesai pemakaman.
Dengan air mata berderi , gadis kecil itu pun pulang kerumhnya . Timbul perasaan iba pada hati Hasan melihat gadis sekecil itu telah kehilangan kasih sayang dan bimbingan seorang ayah.
Keesokan harinya , tatkala Hasan Al- Bashri sedang duduk di teras rumahnya , gadis kecil itu muncul lagi . Sambil menangis dan berterik , ia menuju makam ayahnya . Hasan mengikuti dari belakangnya, ingin mengetahui apa yang akan diperbuatnya.
Sesampai dimakam ayahnya , gadis kecil itu memeluk makamnya dengan pipi diletakkan diatas gndukan tanah merah sembari meratap . Dari balik persembunyiaanya , Hasan bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis itu.
"Ayah , malam tadi kau terbaring sendirian dalam kubur yang gelap ini. Jika malam sebelumnya aku bisa menyalakanlampu untukmu, tapi siapakah yaang menerangimu sekarang?" Jika malam sebelumnya aku bisa menggelar tikar untuk alas tidur ayah , tapi siapakah sekarang yang menggelarkannya untukmu?" Jika malam sebelumnya aku bisa memijit ayah , tapi siaapakah sekarang yang memijitmu? " ratap gadis kecil itu memilukan.
" Ayah jika malam sebelumnya aku yang menyelimuti tubuhmu , tapi  siapakah yang menyelimutimu tadi malam ? Jika malam sebelumnya , ayah bisa memanggilku dan aku pun menjawabnya, tapi siapakah semalam  yang engkau panggil dan siapa pula yang menjawabmu? Jika sebelumnya ayah minta makan dan memintaku untuk menyiaapkannya , tapi apakah semalam ayah makan dan siapa yang menyiapkannya? " kembali terdengar ratapan gadis kecil itu diantara isakan tangisnya.
Hasan Al -Bashri yang mendenganr ratapan gadis kecil  diatas kuburan itu , tak kuasa menahan air matanya karena trharu . Mka didekatilah gadis itu sembari memberi nasehat.
"Wahai anakku ! Janganlah meratap seperti itu . Seharusnya , Ucapkanlah seperti kata-kataku ini . Ayah......kau  telah kukafani dengan kafan yang bagus , masihkh kau memakainya ?  Kta orang Saleh , kain kafan orang yang meninggal dunia ada yang diganti dengan kain kafan dari surga dan pula yang dari nerka . Manakah diantara kain kafan itu yang ayah kenakan sekarang ?" Kata Hasan menenangkan hati gadis kecil itu.
" Ayah .......Kemarin aku telah meletakkan tubuhmu yang sgar bugar dalam kubur , masih bugarkah tubuh ayah sekarang? Ayah ....., para ulama mengatakan bahwa semua manusia akan ditanya tentang keimanannya. Diantara mereka ada yang bisa menjawab dengan lancar , namun ada pula yang bisu . Apakah ayah bisa menjawb atau hanya membisu ?" Sambung Hasan memberi nasehat.
" Ayah .......,kaanya kuburan itu itu bisa menjadi luas atau bertambah sempit tergantung amalnya sewaktu hidup didunia . Bahkan  , katanya kuburan itu bisa merupakan secuil dari taman syurga ., namun bisa juga merupakan lubang dari neraka . Yang menjadi pikiranku , apakah kuburan ayah sekarang ini bertambah luas atau semakin menyempit , taman syurga ataukah lubang neraka ?" tambah Hasan.
" Ayah.........., katanya liang kubur bisa menghangati mayat sebagaimana pelukan serorang ibu kepada anaknya, tetapi bisa pula seperti lilitan ular yang mermukkan tulang . Bagaimana keadaaan tubuh ayah sekarang ini ? " lanjut Hasan .
" Ayah........., Ktanya orang yang berada  dalam kubur itu ada yang menyesali mengapa sewaktu hidup didunia tak memperbanyak amal sholeh , dan yang menyesali mengapa melakukan maksiat , pertanyaanku , apakah ayah termasuk orang yang menyesali karena perbuatan maksiat atau karena sedikit melakukan amal sholeh ?" imbuh asan.
" Terakhir , Ayah........, dulu setiap aku memanggilmu engkau selalu menjawab , namun kini setiap kupanggil engkau tak pernah menjawab . Kini kita telah berpisah dan tak akan bertemu sampai hari kiamat kelak . Semoga Alloh tak menghalangi perjumpaanku denganmu " bimbing Hasan kepada gadis kecil itu yang sedari tadi senantiasa mendengarkan nasehatnya.
Gadis kecil diam sejenak . Tak lama kemudian ia berkata , " Nasehat Tuan sangat baik sekali , saya sampaikan terima kasih banyak ."
Setelah mengucapkan demikian , gadis kecil itu lalu mendoakan ayahnya. Kmudian Hasan Al - Bashri  mengajak pulang.


(disarikan ---dari jejak para sufi----imam Musbikin--Miftahul Asror ---Mitra Pustaka--Yogjakarta )

disampikan dalam Kultum Ba'da Maghrib
Oleh Ustadz Pardiro As Slemany
di Masjid Al Falaah Kracaan Semin Semin Gunungkidul & Masjd Nurul Mutaqin Munggur semin Gunugkidul

Abu Hanifah menerkam Babi Hutan

 IMAM ABU HANIFAH MENERKAM BABI HUTAN

Pada suatu hari seorang lelaki yang bernama Mulhid dari golongan Dahriyin ( Atheis ) menghadap kepada sykh Hammad bin Abi Sulaiman selaku guru Abu Hanifah R.A. Tiada lain tujuannya adalah mendebat para ulama mengenai keberadaan Tuhan yang tidak bertempat pada suatu tempat , juga tidak bisa diraba dan tidak pula dapat dicerna panca indra. Sudah banyak para ulama yang harus bertekuk lutut dihadapannya , sehingga sikapnya bertambah congkak dan menambah tebal keberaniaannya.
     Siapa lagi yang akan aku habisi pendapatnya di hari ini ? ! " begitu kata Mulhid.
" Masih ada , itulah Syaikh Hammad <" jawab para Ulama yang baru saja dikalahkan.
Denagn langkah mantap akhirnya Mulhid menghadap pada seorang kholifah , agar kiranya Bagind sudi memagil Syaikh Hammad untuk diajak berdialog dengan disaksikan baginda sendiri . Maka Baginda pun mmanggil Syekh Hammad , namun diamasih berjanji bahwa ia akan segera datang pada keesokan harinya . Pagi-pagi sekali dengan tanpa diduga Abu Hanifah datang menemui Syekh Hammad yang dilihatnya dalam keadaaan susah memikirkan jalan keluar terbaik untuk menghadapi penyelewengan Mulhid yang seakan tidak terbendung itu. Hal itu kalau dibiarkan dengan tanpa ada yang bisa menghentikan kebohongannya itu , jelas akan merusak keyakinan masyarakat yang selama ini terkenal relegius. Maka Abu Hanifah segera bertanya kepada Gurunya itu.
"Wahai guru , mengapa hari ini aku melihat guru dalam keadaan begitu cemas , susah , adakah aku bisa membantu apa yang sedang menjadi beban pikiran guru ?" , begitu Abu Hanifah menawarkan bantuan kendati ketika itu dia masih kanak-kanak .
" Wahai muridku , bagaimana aku tidak susah menghadapi sebuah tantangan si Mulhid yang telah berhasil mengalahkan para Ulama yang lain. Malah tadi malam aku bermimpi buruk pula .Jangan -jangan menjadi pertanda kekalahanku", begitu tuur sang  guru mengutarakan keluhanya .
" Mimpi bagaimana wahai guru ?!" desak Abu Hanifah lagi.
Dalam tidur aku melihat sebuah rumah yang cukup luas dengan berbagai hiasan yang indah, didalammnya terlihat ada sebuah poon yang sedang berbuah , namun tiba -tiba saja muncul seekor babi dari pojok rumah itu dan langsung memekan daun -daun dan rantingnya  dilahapnya pula sehingga tinggal batangnya saja. .Anehnya  sejenak kemudian dari batang pohon  itu muncul seekor harimau yang segera menerkam babi tersebut dan melahapnya tiada berbisa , " kata Syaikh Hammad .
"Alhamdulillah aku telah diberi ilmu Alloh sehingga akan bisa menafsirkan mimpi Tuan.Mimpi Guru itu betul-beul akan membawa nasib baik pada diri kita, akan selalu membuat sial musuh. Dengan demikian jika guru membari izin diriku untuk menafsirkannya, akan segera aku tafsirkan. Namun jik Guu berkehendak lain , aku akan selalu menurut apa yang yang menjadi maksud Guru." begitu Abu Hanifah menawarkan dengan penuh sopan santun.
" Cobalah kau tafsirkan , bagimana ta'wil mimpi tersebut." begitu desak sang Guru ,
" Rumah yang luas dengan hiasan yang cantik itu adalah negeri dan agama islam itu sendiri , sedang pohon yang berbuah itu adalah para ulamanya , dan batang yang masih tersisa itu adalah tuan Guru sendiri, sedangkan babi ngepet itu wujud si Mulhid , kemudian harimau yang menerkam  itu,  insya Alloh diri saya sendiri. Langkah lebih lnjut , hendaklah Guru pergi bersama saya, dimana dengan kehadiran dan niat tuan yang tulus , aku akan bertindak melawa dan mendesak si Mulhid ." begitu kata Abu Hanifah.
Mendapat dorongan Abu hanifah seperti itu, Syekh Hammad langsung bangkit semangatnya, kmudian pergi bersama Abu Hanifah menuju masjid Jami'memenuhi undangan Kholoifah untuk membungkam , mulut si Mulhid yang selama ini tidak terkendali. Segera saja Abu Hanifah mmasuki masjid dan mengambil sebuah tempat duduk untuk gurunya, sedangkan di sendiri duduk dibwah seraya mengangkat kedua terompahnya dan kedua terompah gurunya. Masjid itupun lantas dipenuhi oleh hadirin yang akan menyksikan pertandingan akbar antara pihak hak dengan pihak btil, dimana pertarungan ini diwasiti oleh Kholifah , Setelah semuanya dirasakan siap , si Muhid segera naik mimbar seraya mengatakan :
Siapa yang akan menjawab pertanyaanku ? " begitu dia menantng para hadirin .
"Anda jangan menentukan siapa yang akan menjawab, namn dari para hadirin ini jika ada yang menjawab , entah itu anak-anak atau orang tua , dialah yang akan berhadapan d3ngan Anda," begitu Abu Hanifah membalas dengan sengit pula .
" Hai anak kecil ,adakah engkau berani menghadapi aku engan umurmu yang masih bau kunyit itu , padahal telah banyak ulama yang bersorban besar ,berpakaian terhormat dan berlengan komprang harus bertekuk lutut dihadapanku. Kamu sendiri anak kecil dan belum kering dari berkhitan , berani-beraninya berdebat !" begitu Mulhid mulai panas mendengar balasan Abu Hanifah ." Adakah kau sanggup menjawab prsoalan yang aku ajukan, atau  hanya hangat-hangat tahi ayam , ingin sekali-kali mencoba ? " lanjut Mulhid lagi.
" Silahkan bertanya dan aku yang akan sanggup menjawab dengan mendapat pertolongan Alloh , " tantang Abu Hanifah lagi.
"Apakah Tuhan itu ada ? " begitu pertannyaan Mulhid yang pertama dilontarkan .
Betul , benar dan Haqqul yakin , jawab Abu Hanifah tegas .
"Kalau begitu, dimana Dia Sekarang ?" lanjut Mulhid .
"Dia tidak bertempat ," balas Abu Hanifah singkat.
"Bagaimana sesuatu yang wujud namun tidak memerlukan tempat ?" sahut Mulhid lagi.
" Pertannyaan itu sebenarnya telah terjawab dengan yang berada pada tubuhmu sendiri ." sambung Abu hanifah lagi.
" Apa itu ?" lanjut Mulhid pula 
"Apakah pada tubuhmu itu ada nyawanya ( ruh )?"sergah aBU hANIFAF.
"Betul , benar ada , sahut Mulhid pula .
" Dimana ia berada ? Apakah bertempat di kepalamu, atau di perutmu atau dikakimu ? " lanjut Abu HANIFAH LAGI.
Mendapat berondongan pertanyaan itu si Mulhid kebingungan . Kemudian Abu anifah meraih segelas susu yang sejak tadi dihidangkan oleh kerajaan kepada para hadirin , kemudian mengataan , " pakah susu di gelas ini mengandung lemak ? "
" Benar , wahai bocah !" sahut Mulhid kembali
" Kalau demikian dimana letak lemak itu , apakah di bagian atas atau dibagian bawah ? " lanjut Abu Hanifah dengan gerang.
Ternyata si Mulhid kebingungan lagi, seakan tidak mengerti lagi arah utara dan arah selatan. Maka Abu Hanifah pun melanjutkan ucapannya , " Sebagaimana ruh itu tidak diketahui tempatnya , atau lemak pada susu itu juga tidak bisa dimengerti tempatnya ,  demikian pula Alloh tidak akan dapat dientukan tempatnya di jagat raya ini," demikian tutur Abu Hanifah.
"Kalau begitu , Apakah ada barang maujud sebelum  Alloh dan sesudahnya , Hayo ? " begitu lanjut Mulhid yang ternyata langkahnya belum mati. 
' Sebelum Alloh dan sesudahnya tidak ada apa-apa. Apa yang aku katakan ini ada dasarnya . Tiada lain berada pada tubuhmu sendiri ," sahut Abu Hanifah membuat Mulhid terperangah
" Apa itu ?" sergah Mulhid tergesa-gesa.
 Coba buka dan lihat telapak tanganmu. Ada apa sebelum ibu jari dan sesudah kelingking ? " tangis Abu Hanifah lebih lanjut .
" Nggak , tidak ada apa-apa , " jawab Mulhid tampak mulai ngeper.
" Demikian pula sebelum dan sesudah Alloh tidak akan pernah ada apa- apa," tancap Abu Hanifah.
" Masih ada satu persoalan lagi yang perlu kau jawab ," lanjut  Mulhid lagi kendati sudah megap-megap.
" Akan terus aku jawab , Insya Alloh !" begitu sahut Abu Hanifah
" Kalau Alloh itu ada , sekarang sedang mengapa Dia , sedang berbuat apa pula ? " tanya Mulhid.
" Situasi dan kondisi  sekarang ini memang terbalik mestinya orang yang bertanya itu berada di bawah , kalau perlu di deretan kursi berbaur dengan para hadirin . Dan akan lebih layak jika si penjawab berada diatas mimbar ebagai penghormatan . Dengan demikian jika saja kau mau turun dari mimbar , kemudian aku ganti yang naik . aku akan sanggup menjawab pertanyaan yang kau kemukakan itu, " begitu Abu Hanifah melancarkan diplomasinya yang jitu.
Akhirnya si Mulhid pun mnglah turun dari mimbar menuju sebuah kursi , sedangkan Abu Hanifah dengan cepat naik keatas mimbar dan dengan petah mengatakan " Sekarang pertanyaanmu aku jawab , bahwa Alloh sekarang sedang menurunkan martabat si penyandang kebathilan dari atas mimbar menuju kursi di bawah terompahku, kemudian Dia menaikkan martabat si penyandang hak dari tempat bawah menuju pangung kehormatan !"
Mendapat jawaban seperti itu , tepuk tangan para hadirin tidak terbendng lagi mengelu-elukan diplomasi Abu Hanifah . Sedangkan si Mulhid betul-betul tak berdaya.
Demikia semoga bermanfaat.
(disarikan dari kisah-kisah teladan buat anakku--imam Musbikin----Mitra Pustaka ---Jogjakarta )
 

BAHAN MATERI KULTUM  BA'DA MAGHRIB
OLEH  : Ustadz Pardiro As Slemany
 di Masjid Al Falaah Kracaan  Semin Semin Gunungkidul DIY  & Di Masjid Nurul Muttaqin Munggur Semin

Rabu, 20 April 2011

Maksud Pembohong dalam Hadits

Maksud Pembohong dalam Hadits

ASSALAMU`ALAIKUM WR.WB
Langsung saja pada pertanyaannya, apakah makusd dari hadits
"Abu Hurairah Ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda " Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong jika ia membicarakan dengan setiap apa yang ia dengar" ( HR. Muslim )"
Mohon penjelasannya. Terima kasih!
Near (masih belajar)
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Near yang dimuliakan Allah swt
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,”Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong apabila dia membicarakan setiap yang dia dengar,” (HR. Muslim)
Imam Nawawi mengatakan sesungguhnya diantara kebiasaan adalah mendengarkan suatu kebenaran dan kebohongan dan apabila seseorang membicarakan setiap yang didengarnya maka sungguh ia adalah pendusta karena menginformasikan sesuatu yang belum terjadi. Dan kebohongan adalah menginfirmasikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan yang sebenarnya dan tidak ada persyaratan didalamnya harus dengan sengaja.”
Dan dari al Mugiroh dari Syu’ah berkata,”Nabi saw bersabda,’Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan durhaka terhadap ibu, mengubur bayi perempuan (hidup-hidup), melarang dari meminta sesuatu yang bukan haknya’ dan beliau saw tidak menyukai kalian mengatakan ‘katanya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Bukhori)
Ibnu Hajar menyebutkan pendapat al Muhib ath Thabari tentang makna dari “tidak menyukai kalian mengatakan,’katanya.” Bahwa makna hadits ini mengandung tiga hal :
1. Isyarat akan makruhnya banyak berbicara dikarenakan hal itu membawanya kepada kesalahan.
2. Maksudnya adalah menceritakan dan mencari-cari omongan-omongan orang untuk kemudian dia informasikan, seperti seorang yang mengatakan,”Si A telah mengatakan ini dan ada yang mengatakan dia mengatakan itu.” Larangan di sini bisa berupa teguran dari memperbanyak perbuatan itu atau bisa pula untuk sesuatu tertentu darinya, yaitu ketidaksukaan orang yang diceritakannya.
3. Adapun menceritakan perbedaan didalam permasalahan agama, seperti perkataan,”Si A telah berkata begini, si B telah berkata begitu.” dan yang menjadikannya makruh adalah memperbanyak hal itu. Karena tidaklah aman sesuatu yang terlalu banyak dari suatu kesalahan. Dan ini terhadap orang tertentu yang menginformasikan berita itu tanpa diteliti terlebih dahulu akan tetapi orang itu hanya bersikap taqlid (mengikuti) orang yang didengarnya tanpa adanya kehati-hatian, hal ini dipertegas dengan hadits,”Cukuplah seseorang disebut pembohong apabila menceritakan setiap yang didengarnya.” (HR. Muslim) – (www.islamOnline.net)
Dengan demikian diperlukan kehati-hatian didalam menyampaikan berita atau informasi dari setiap yang didengarnya kepada orang lain sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu akan kebenaran dari berita tersebut.
Informasi yang disampaikan sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu akan menjadikan informasi yang disampaikannya itu mengalami penambahan ataupun pengurangan dari apa yang sebenarnya dia dengar dari sumbernya, dan ini termasuk didalam kebohongan karena dia telah menyampaikan sesuatu yang berbeda dari hakekatnya.
Imam Nawawi mengatakan bahwa seyogyanya setiap orang yang sudah sampai usia taklif menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali suatu perkataan yang tampak didalamnya kemaslahatan. Dan kapan saja berbicara sama maslahatnya dengan tidak berbicara maka disunnahkan untuk menahan dari membicarakannya karena hal itu bisa mengarahkan perkataan yang mubah menjadi haram atau makruh dan ini banyak terjadi..
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih)
Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini secara tegas menyebutkan seyogyanya seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataannya itu adalah kebaikan, yaitu yang tampak didalamnya kemaslahatan dan kapan saja dia meragukan adanya kemaslahatan didalamnya maka hendaklah dia tidak berbicara. (Riyadhus Shalihin hal 445)
Wallahu A’lam

Ahlush shuffah

AHLUSH -SHUFFAH
Dr . Ikhsan Ilahi Dhahir menegaskan tentang keberadaan Ahlu Shuffah , menurutnya ,, Kelompok ini pada awal-awal kemunculannyha berjumlah empat ratus orang . Mereka tidak mempunyi tempat tinggal dan keluarga di Madinah . Mereka bertempat di Masjid Nabawi . Mereka tidak pergi kesawah ( ladang ) tidak punya hewan perah dan perdagangan . Mereka mencari kayu baker dan mennumbuk biji-bijian di siang hari . Pada malam hari mereka sibuk dengan beribadah dan mempelajari Al Qur’an . Rasululloh selalu memberikan bantuan kepada mereka dan menganjurkan kepada kaum muslimin agar membantu mereka . Nabi sendiri bahkan sering duduk dan makan bersama mereka . Tentang mereka , Alloh juga pernah berfirman :

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿٥٢﴾

“ Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari , sedangkan mereka keridhaan-Nya “

( Q.S . AL AN’AM : 53 )

Dalalm ayat lain Alloh juga berfirman senada :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“ Dan bersabarlah kamu bersama -sama dengan orang –orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya “

( Q.S AL KAHFI : 28 )

Memulyakan dan Menjamu Tamu

Dan mereka mengutamakan (kawannya) melebihi diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesusahan. (QS Al Hasyr-9)
Riwayat Ad Dailami dari Anas mengatakan, Rasulullah saw bersabda : Apabila ada tamu berkunjung kepada seseorang, maka kunjungan itu membawa rizki dan pulangnya membawa maghfirah (ampunan) atas dosa-dosa mereka.
Riwayat Abu syeikh dari Abu Qurshafah : Apabila Allah menghendaki seseorang menjadi baik, maka Allah menghadiahkan kepadanya berupa kedatangan tamu, yang mana kedatangannya membawa rizkinya dan kembali dengan membawa rizkinya pula dan Allah memberi ampunan kepada penghuni rumah itu.
Riwayat Ibnu Abi Ad Dunya dari Hibban bin Abi Jundah : bahwa shadaqah yang lebih cepat terangkat ke langit, yaitu seseorang yang menyediakan makanan yang bagus kemudian mengundang orang-orang di antara kawannya.
Riwayat Al Hakim dari At Turmudzi dari Aisyah ra : bahwa malaikat tidak henti-hentinya memohonkan rahmat kepada seseorang diantaramu, selama hidangan yang disediakannya masih tersedia.
Riwayat Al Hakim dari Abu Harairah : barangsiapa memberi makan kepada saudaranya yang muslim berupa makanan kesukaannya, maka Allah akan membebaskannya dari neraka.
Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah : Ada seorang lelaki datang menghadap Nabi Muhammad saw, katanya ; sesungguhnya aku ini orang yang sedang mengalami kesulitan. Maka beliau menyuruh orang itu supaya datang ke rumah salah seorang istrinya. Istri beliau (saw) berkata : Demi dzat yang mengutusmu dengan haq, sesungguhnya aku tidak mempunyai apa-apa kecuali air. Kemudian beliau (saw) mengirim orang itu supaya datang kepada salah seorang istrinya yang lain. Tetapi istri beliau yang lain inipun memberi jawaban yang serupa, hingga semua istri beliau yang dihubungi lelaki itu memberi jawaban yang serupa : Demi dzat yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa selain air. Lalu Nabi saw, bertanya kepada mereka yang hadir : Siapa yang mau menjamu orang ini di malam ini ? salah seorang dari sahabat Anshar menjawab : Aku wahai Rasulullah, yang akan menjamunya. Kemudian leleki itu diajak ke rumahnya. Kata sahabat Anshar itu kepada istrinya : Muliakanlah tamu Rasulullah saw, ini.
Dalam suatu riwayat dijelaskan, ketika sahabat Anshar itu bertanya kepada istrinya : apa kamu masih mempunyai makanan ? Istrinya menjawab : Tidak, kecuali hanya sedikit, hanya cukup untuk satu anak. Sahabat Anshar itu berkata : Kalau begitu aturlah bagaimana sekiranya orang itu tidak mengetahui, ketika telah menghadapi makan malam. Apabila tamu itu telah masuk di ruang makan, maka matikanlah lampunya. Tunjukkanlah seakan-akan kita juga ikut makan. Kemudian sandiwara itupun telah diatur hingga matang. Hingga kketika tamu itu telah duduk menikmati makan malamnya seakan-akan sahabat Anshar tadi ikut menemani makan. Padahal semalaman itu suami istri ini tidak makan.
Tiba waktu pagi, sahabat Anshar tadi berkunjung menghadap Rasulullah saw, maka beliau bersabda : Sungguh Allah kagum menyaksikan sandiwaramu terhadap tamumu semalam. Kemudia turunlah ayat :
Dan mereka mengutamakan (kawannya) melebihi diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesusahan. (QS Al Hasyr-9)
RENUNGAN
Nabi saw, bersabda :
Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Allah menyiapkan bagi siapa yang berbicara lunak dan memberi makanan serta shalat di waktu malam ketika orang-orang sedang tidur.
Nabi saw, bersabda :
Janganlah kamu memaksakan diri untuk menghormati tamu sehingga kamu membencinya, karena siapa membenci tamu, maka iapun telah membenci Allah, dan siapa membenci Allah, maka Allah membencinya.
Jakfar bin Muhammad, berkata :
Apabila kelian duduk bersama saudara-saudaramu di hadapan hidangan, maka duduklah yang lama, karena ia adalah saat yang tidak dihitung dari umurmu

Jangan suka berdusta oleh Ustadz Pardiro as Slemany

Syekh Abdul Qodir Al Jailani memberikan sebuah petuah pada hari Jum'at pagi di madrosah pada tangal 7 jumadil Akhir 545 Hijrah , sebagai berikut :

" Jadilah engkau sabagai seorang yang suka berpikir, dan jangan suka berdusta . Engkau bilang , aku takut kepada Alloh sementara sebaenarnya engkau takut kepada selain Alloh. Jangan engkau takut kepada bangsa Jin, manusia atau penguasa . Jangan kamu takut kepada siksa di dunia atau siksa di akhirat. Akan tetapi takutlah kaliah kepada Dzat yang menyiksa dengan suatu siksaan . Seseorang yang berakal , tentu tak akan pernah takut terhahadap celaan seseorang yang mencela  . Dia pasti akan menulikan telinga dari pembikcaraan selain Alloh. Semua makhluk dalam pandangan hamba yang hanya takut kepada Alloh adal;ah identik dengan makhluk yang lemah , sakit dan miskin .

Ya Alloh , sesungguhnya kami memohon kedekatan kepada-Mu tanpa suatu bencana. Lunakkanlah hati kami dalam menyikapi eksekusi dan kepastian- Mu . Lindungilah kami  dari niat jelek orang -orang yang akan  berbuat jelek kepada kami dengan kelalimannya. Kami mohon kepada-Mu maaf dan keselamatan dalam beragama di dunia maupun diakhirat.

Seorang lelaki masuk kedalam rumah  Abu Yazid Al Bustami dengan tanpa permisi . Abu Yazid berkata , ' ada apa ? " Dia menjawab : " aku bermaksud mencari tempat yang bersih untuk melakukan sholat." Abu Yazid berkata kepada seorang lelaki itu ,  " Bersihkan hatimu dan sholatlah ditempat dimanapun engkau berada ."
Sesungguhnhya , tidak ada orang yang mengetahui riya' orang yang ikhlas . Riyau ' , Ujub , bangga diri , dan munafiq merupakan panah -panah setan yang akan dibidikkan kepada hati manusia . Belajarlah kepada seorang guru bagaimana jalan yang telah mereka tempuh untuk sampai kepada Al  Haq . Bertanyalah kepada mereka tentang bagaimana godaan nafsu , tentang godaan ego dan tabiat sebab mereka pernah merasakan  godaannya dan mengetahui tipu dayanya . Dengan begitu engkau akan dapat mengalahkan nafsu , ego dan tabiatmu.
Jangan kamu terpukul dengan panah-panah setan . Ingatlah bahwa setan  dalam bentuk jin tidak akan mampu menghadapimu kecuali dengan merubah wujud menjadi setan dalam bentuk manusia , dalam bentuk nafsu dan dalam bentuyk  teman yang buruk. Merataplah kepada Alloh dan mikkntalah pertolongan kepada-Nya untuk menghadapi musuh-musuh ini.
disarikan dari  Asrifin An Nakhrawie , S.Ag ; Syaikh Abdul Qodir Al Jailani , Perjalan hidup , Karomah & Ajaran Tasauf  ; Galaxy ; Surabaya .

SORGA berada ditelapak kaki IBU

Dipun Riwayataken saking Shohabat Anas bin Malik R.A.  bilih Rasululloh bersabda  :
 " AL JANNATU TAHTA AQDAAMIL UMMAHAATI  " ( HR.ALQUDLA'I LAN AL KHOTIB )
Hadits kasebut ana uga kang diriwayatake dening Imam Muslim saking ANNU"MAN BIN BASYIR .
Pengertian hadits iku kaya kang di ngendikakake  dening ALMANAWI  :
" LUZUUMU THOO'ATIHINNA SABABUN LIDUKHUULIL JANNATI "
artosipun :
Tansah bekti marang ibu-ibu yaiku sebab  mlebune ing dalem suwarga .
kategasaken wonten ing Kitab  Lisanul Arab  Juz - 16 halaman 253 :

Dan sesungguhnya terdapat sebutan tentang sorga didalam kitab suci Alqur'an yang mulia dan hadits yang mulia pada bukan satu temoat saja . Sorga itu negeri kenikmatan dinegeri akhirat , terambil dari kata " Al Ijtinan " dengan arti tertutup, karena gemuk pohon-pohonn ya dan terteduhnya , tersebab jalin menjalin segala dahan-dahannya.
Dan sorga ini , disediakan Alloh bagi hamba-hambanya yang shohih yaitu yang mendirikan haq Alloh , dan mendirikan haq hamba-hamba Alloh.  seperti yang tertegas dalam  hadits qudsi yang ditakhrij oleh Imam Muslim dan lainnya  bahwa Rasululloh SAW BERSABDA :
 telah Berfirman Alloh Azza Wa Jalla  :
a'dadtu li'ibadiyash sholihiina maa laa 'ainun ra-at walaa  udzunun sami'at walaa khothora 'alaa qolbi basyarin
Telah aku sediakan , bagi hamba-hamba-Ku yang sholih , sesuatu yang belum pernah dilihat mata , didengar telinga dan terlintas dilihat manusia.

Mengobati diri sendiri oleh Ustadz Pardiro as Slemany

 Mengobati Diri Sendiri 
Rasululloh SAW  uwis   ngaturake Sabdanipun :
Dho'u yadaka 'alaalladzii ta-allama man jasadika wa qul : Bismillaahi .Stalaastaa , wa qul Sab'a  marrootin  a'uudzubillaahi waqudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru ( rawahu Muslim )

Letakanlah tanganmu pada anggota tubuhmu yang terasa sakit dan ucapkanlah , "Bismillaah "  tiga kali , dan ucapkanlah do'a ini sebanyak tujuh kali : 
"A'uudzu billaahi wa qudraatihii min syarri maa ajidu wa uhaadziru "
artinya :
"Aku berlindung kepada Alloh dan Kekuasaan-Nya dari kejadian sesuatu yang aku temui dan aku waspadai."
( HR.IMAM MUSLIM 4/1728  fiikitaabi : Ad-Du'a wal 'ilaj minal kitab was -Sunnah   ta'lif : Sa'id Bin 'Ali Wahf Al Qohthaniy )

2.Mengobati Penyakit Dalam dan Terluka

Shohabat Sufyan meriwayatkan ,bahwa apabila ada orang yang mengeluh atau tertimpa penyakit dalam atau luka. Rasululloh SAW  ersabda dengan jari-jari beliau begini .Kemudian Sufyan meletakkan jari telunjuk dibawah tanah , lantas diangkatnya kembali , dan berkata :

"Bismillaahi turbatu ardhinaa biriiqoti ba'dhinaa yusfaa saqiimunaa bi-idzni robbinaa "

( Rowahu Bukhory wa Muslim )

" Dengan menyebut nama Alloh , dengan debutanah  kami dan air liur sebagian dari kami, semoga disembuhkan derita kami dengan seizin Tuhan kami. " *( hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim )

fiikitaabi Fathul Barri : 10/206 , Muslim : 4/1724 no.2194

maksud hadits tersebut adalah Sufyan membasahi jari telunjuk dengan ludahnya , kemudian meletalkan jari telunjuk itu pada debu. Dengan demikian ada sedikit debu yang menempel pada jari tersebut , kemudian  diusapkan pada bagian yang terluka atau terasa sakit, disertai dengan membaca do'a diatas .   ( lihat syarh an- Nawawi terhadap Shohih Muslim 14/184 ,   Fathul bari 10/208 )