Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Maret 2014

artikel


jika Para Syuhada Tidak Mati, di Manakah Arwah Mereka?

Syahid dalam medan jihad memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Al Qur'an dan al Sunnah telah banyak menyebutkan keutamaannya. Para sahabat dan ulama salaf telah berlomba untuk mendapatkannya.
Kesyahidan adalah nikmat
Al Qur'an menyebutkan bahwa kesyahidan merupakan anugerah nikmat dari Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Anugerah ini menghantarkan pemiliknya kepada kesempurnaan hidup, keberuntungan dan kebahagiaan. Allah berfirman:
وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Al Nisaa: 69)
Maksud syuhada' pada ayat di atas, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman al Sa'di, adalah orang-orang yang berperang fi sabilillah untuk meninggikan kalimat Allah, lalu mereka terbunuh.
Kemudian di akhir ayat, Allah menyebutkan bahwa mereka adalah teman terbaik di surga bagi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Para syuhada' tidak kehilangan nikmat dunia
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali Imran: 169-170)
Syaikh al Sa'di rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya bahwa dalam ayat yang mulia ini terdapat keutamaan dan kemuliaan para syuhada' serta karunia dan anugerah yang Allah berikan kepada mereka. . . .
Kemudian berkaitan dengan balasan orang yang berjihad fi sabilillah dalam memerangi musuh Islam untuk meninggikan kalimatullah lalu gugur di dalamnya, mereka tidak seperti yang kamu kira, yaitu mereka telah mati dan kehilangan kenikmatan dunia dan kesenangannya. Padahal hal inilah yang membuat banyak orang khawatir, para pengecut takut berperang dan tidak rindu syahid. Tetapi mereka mendapatkan nikmat yang lebih besar (banyak) daripada yang diperebutkan orang-orang yang berlomba untuk memperolehnya. Mereka hidup di sisi Tuhan-nya di negeri kemuliaan.
Di sana, mereka mendapatkan rizki dari berbagai kenikmatan yang tidak akan pernah diketahui sifatnya kecuali oleh orang yang Allah beri. Allah menyempurnakan anugerah nikmat kepada mereka dengan mengabungkan antara nikmat badan berupa rizki dengan nikmat hati dan ruh dalam bentuk kebahagiaan terhadap karunia yang dianugerahkan kepada mereka. Sehingga sempurnalah kenikmatan dan kebahagiaan mereka."
Berkaitan dengan hal ini Dr. Abdullah Azzam menceritakan pengalamannya, “dan sungguh kami telah melihat sebagian dari bukti-bukti yang jelas, yang menunjukkan secara nyata bahwa para syuhada’ itu hidup." Umar Hanif menceritakan kepadaku (Abdullah Azzam), dia berkata, “aku telah membuka dengan tanganku dua belas kuburan para syuhada’. Maka aku tidak mendapati seorang syahidpun yang berubah jasadnya; dan aku lihat sebagian meraka tumbuh jenggotnya dan panjang kukunya di dalam kubur.”
Dan kisah dari DR. Babrak yang syahid di Urgun dan mereka membawanya ke Phabi (kamp Muhajirian Afghan di Pesyawar). Ketika anak-anaknya menjenguk (sepulang) dari sekolah dan berdiri disamping kepalanya, dia (Dr. Babrak) menangis dan air matanya mengalir diatas wajahnya."
“Aku telah membuka dengan tanganku dua belas kuburan para syuhada’. Maka aku tidak mendapati seorang syahidpun yang berubah jasadnya; dan aku lihat sebagian meraka tumbuh jenggotnya dan panjang kukunya di dalam kubur.” Kesaksian Umar Hanif
Bau darah syuhada' seperti aroma kesturi
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya! Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah -dan Allah lebih tahu siapa yang terluka di jalanNya- melainkan dia akan datang pada hari kiamat dengan darah yang berwarna darah (merah) sedangkan baunya seharum kesturi.” (HR. Bukhari)
Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh di sakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid (Al Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti kesturi.” (Kado Istimewa Untuk Sang Mujahid, karya Syaikh Dr. Abdullah Azzam)
Dan sungguh di sakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid (Al Syahid, insya Allah)- dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti kesturi. (DR. Abdullah Azam)
Di manakah arwah syuhada'?
Setelah mengetahui keutamaan mati syahid dan kemuliaan para syuhada', bahwa mereka hakikatnya tidak mati dan tidak kehilangan kenikmatan. Lalu kita bertanya, "di manakah arwah mereka sebenarnya?"
Arwah para syuhada' ditempatkan di surga Firdaus yang tertinggi. Hal ini didasarkan pada hadits Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda kepada Ummu Haritsah binti Nu’man -putranya gugur di perang badar-ketika dia bertanya kepada beliau (tentang nasib putranya): “Di mana dia?” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya dia ada disurga Firdaus yang tinggi.” (HR. Al Bukhari)
Dalam Shahih Muslim, dari Masyruq rahimahullah, berkata: "Kami bertanya kepada Abdullah tentang ayat ini (QS. Ali Imran: 169)
Dia menjawab, "adapun kami telah bertanya tentang hal (kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), lalu beliau menjawab:
"Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada’ itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di 'Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, lalu bertanya: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bisa menikmati surga dengan sekehendak kami?” Rabb mereka bertanya seperti itu sebanyak tiga kali. Maka tatkala mereka merasa bahwasanya mereka harus minta sesuatu, mereka berkata, “Wahai Rabb kami! kami ingin ruh kami dikembalikan ke jasad-jasad kami sehingga kami dapat berperang di jalan-Mu sekali lagi. “Maka tatkala Dia melihat bahwasanya mereka tidak mempunyai keinginan lagi, mereka ditinggalkan.” (HR. Muslim)
Imam al Darimi dalam sunannya meriwayatkan dari Masyruq, dia berkata: "kami telah bertanya kepada Abdullah tentang arwah para syuhada'. Kalau bukan Abdullah, maka tak seorangpun yang menyampaikannya kepada kami. Dia (Abdullah) berkata, "arwah para syuhada' di sisi Allah pada hari kiamat berada di perut burung hijau. Dia memiliki lentera-lentera yang tergantung di 'Asry. Dia terbang di dalam surga ke mana saja yang dikehendakinya. Kemudian dia kembali ke lentera-lentera tadi, lalu Rabb mereka memuliakan mereka dengan berkata: "Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: "tidak, kecuali kami dikembalikan lagi ke dunia sehingga kami terbunuh (mati syahid di jalan Allah ) untuk kesekian kali."
Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan, ". . . ketika mereka tahu harus meminta, mereka meminta agar ruh mereka di kembalikan ke jasad-jasad mereka untuk berjihad lagi atau untuk mencurahkan jiwanya di jalan Allah Ta'ala dan merasakan nikmatnya (gugur) di jalan Allah." Walahu A'lam
Para Syuhada' meminta dikembalikan lagi ke dunia, padahal mereka sudah berada di surga, untuk merasakan nikmatnya gugur di jalan Allah sebagai syuhada'
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengetahui kenikmatan yang diperoleh para syuhada'. Karenanya beliau pernah menyampaikan keinginannya untuk gugur di jalan Allah dalam sabdanya:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan meninggal di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu terbunuh, lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh." (HR. Al Bukhari)
Sesungguhnya kematian di jalan Allah tidak seseram yang kita bayangkan. Banyak hadits dan kisah yang memaparkan bahwa para syuhada' tidak merasakan sakit berlebih ketika menemui kesyahidan, kecuali seperti tercubit.
Disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “orang yang mati syahid itu tidak merasakan (rasa sakit) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan)
Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (rasa sakit) pembunuhan kecuali sebagaimana seorang di antara kalian merasakan (sakitnya) cubitan. (al Hadits)
Masih takutkah kita untuk berjihad fi sabilillah dan menemui kesyahidan di jalan Allah?
Oleh: Purnomo
(PurWD/voa-islam.com)

Kamis, 02 Februari 2012

mengganti nama yg jelek dg nama yg baik



                Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata,
        أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُغَيِّرُ الِاسْمَ الْقَبِيحَ . (رواه الترمذي)
                "Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa mengganti nama yang jelek." (HR. At-Tirmidzi)[1]
[1] Sunan At-Tirmidzi/Kitab Al-Adab 'An Rasulillah/Bab Ma Ja`a fi Taghyir Al-Asma`/hadits nomor 2765. At-Tirmidzi menyebutkan perkataan Abu Bakar bin Nafi' Al-Bashri; Bisa jadi Umar bin Ali berkata dalam hadits Hisyam bin Urwah ini dari ayahnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam secara mursal, tanpa menyebut dari Aisyah.
Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (2839), Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (9125), Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1980), dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (207).

                Dalam Tuhfatu Al-Ahwadzi, Syaikh Al-Mubarakfuri mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan "mengganti nama yang jelek," yaitu mengubahnya dengan nama yang bagus.
                Demikianlah kebiasaan Rasulullah, apabila beliau menjumpai orang yang namanya jelek atau nama yang mempunyai makna tidak baik, beliau ganti nama orang tersebut dengan nama lain yang bagus. Sebab, pada Hari Kiamat nanti kita semua akan dipanggil dengan nama kita dan nama orangtua kita. Itulah makanya, kita mesti mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama lain yang bagus dan mempunyai makna yang baik. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
        إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ . (رواه أحمد وأبو داود والدارمي)
                "Sesungguhnya kalian akan dipanggil nanti pada Hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka, perbaguslah nama-nama kalian." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ad-Darimi)[2]
[2] Musnad Ahmad/Kitab Musnad Al-Anshar/Bab BaqiHadits Abid Darda`/hadits nomor 20704, Sunan Abi Dawud/Kitab Al-Adab/Bab Fi Taghyir Al-Asma`/hadits nomor 4297, dan Sunan Ad-Darimi/Kitab Al-Isti`dzan/Bab Husn Al-Asma`/hadits nomor 2578, semuanya dari Abud Darda` Radhiyallahu Anhu.
Tentang hadits ini, Imam An-Nawawi mengatakan; sanadnya jayyid (Al-Adzkar/849). Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata; Dishahihkan Ibnu Hibban, rijalnya tsiqah, namun dalam sanadnya ada yang terputus (Al-Fath/syarah hadits noor 5725).

                Said bin Al-Musayyib menceritakan, bahwa kakeknya yang bernama Hazan pernah datang menemui Nabi. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Siapa namamu?" Dia menjawab, "Nama saya Hazan."[3] [3] Hazan, artinya sedih.
Nabi berkata, "Tidak, namamu adalah Sahal."[4] [4] Sahal, artinya mudah
Dia berkata, "Saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan oleh ayahku."
                Said bin Al-Musayyib meneruskan, "Setelah itu, dia selalu kelihatan seperti orang yang sedih di tengah-tengah kami."[5] [5] Lihat; Shahih Al-Bukhari/Kitab Al-Adab/Bab Taghyir Al-Asma` Ila Ahsana Minhu/hadits nomor 5725, Sunan Abi Dawud/Kitab Al-Adab/Bab Fi Taghyir Al-Asma` Al-Qabih/hadits nomor 4205, dan Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Anshar/Bab Hadits Al-Musayyib bin Hazan/hadits nomor 22561.
                Dalam hadits di atas, ada beberapa poin yang bisa diambil hikmahnya. Pertama; Bahwa mengganti nama yang telah diberikan oleh bapak atau orangtua bukanlah suatu hal yang tabu atau suatu sikap yang dianggap tidak menghormati orangtua. Jika memang nama tersebut tidak bagus atau mempunyai arti yang tidak baik, entah dikarenakan ketidaktahuan orangtua atau sebab yang lain, maka tidak mengapa mengganti nama tersebut dengan nama yang lebih baik. Bahkan, demikianlah yang dicontohkan oleh panutan kita.
                Kedua; Nama juga bisa bermakna sebagai doa atau harapan. Apabila seseorang mempunyai nama yang bagus atau orangtua memberikan nama yang baik kepada anaknya, maka hal itu juga bisa bermakna sebagai doa atau harapan. Termasuk juga apabila orangtua memberikann nama bagi anaknya dengan nama-nama sahabat atau orang saleh, tentu dia berkeinginan agar anaknya dapat menjadi atau mendekati seperti nama yang disandangnya. Sebaliknya, jika seseorang memiliki nama yang jelek atau ada orangtua yang memberikann nama tidak bagus kepada anaknya, maka hal ini juga bisa menjadi sesuai kenyataan, sebagaimana nama yang disandang. Kasus yang terjadi pada kakek Said bin Al-Musayyib hanyalah satu contoh di antaranya. Masih ada sejumlah kasus lain lagi yang sebagiannya nanti akan kami sebutkan.
                Ketiga; Tidak diperbolehkannya bagi kita untuk mengabaikan apa yang telah dikatakan atau ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebab, apa yang telah ditetapkan beliau bagi kita, maka itulah yang terbaik. Ketika Hazan menolak mengganti namanya dengan Sahal, maka dia pun merasakan akibat bantahannya terhadap Nabi. Dia menjadi orang yang selalu tampak sedih, atau dia selalu saja dirundung kesedihan. Hal seperti ini juga pernah terjadi pada seorang Arab Badui ketika dia sakit dan dijenguk oleh Nabi. Waktu itu, sebagaimana biasa, beliau mengatakan dan mendoakan bahwa sakitnya tidak berat dan akan segera sembuh. Tetapi, orang Badui itu malah mengatakan bahwa ia sakit keras, badannya sangat panas, dan penyakit itu dapat mengantarkan dirinya yang sudah tua ke liang kubur. Maka, tidak lama setelah itu, orang Badui itu pun meninggal.[6]
 [6] Lihat kisah ini di Shahih Al-Bukhari/Kitab Al-Mardha/Bab Ma Yuqalu Li Al-Maridh wa Ma Yujib/ hadits nomor 5230 beserta syarahnya dalam Fath Al-Bari
                Diriwayatkan juga, bahwa Juwairiyah Radhiyallahu Anha salah seorang istri Nabi, dulunya bernama Barrah,[7] [7] Barrah, artinya wanita yang taat atau wanita yang jujur. Nabi tidak menyukai nama ini, karena ia termasuk nama yang tidak disukai Allah. Sebab, itu adalah nama yang memuji dan menyucikan diri sendiri. Allah berfirman,
tûïÏ%©!$# tbqç7Ï^tGøgs uŽÈµ¯»t6x. ÉOøOM}$# |·Ïmºuqxÿø9$#ur žwÎ) zNuH©>9$# 4 ¨bÎ) y7­/u ßìźur ÍotÏÿøóyJø9$# 4 uqèd ÞOn=÷ær& ö/ä3Î/ øŒÎ) /ä.r't±Sr& šÆÏiB ÇÚöF{$# øŒÎ)ur óOçFRr& ×p¨ZÅ_r& Îû ÈbqäÜç/ öNä3ÏG»yg¨Bé& ( Ÿxsù (#þq.tè? öNä3|¡àÿRr& ( uqèd ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ #s+¨?$# ÇÌËÈ  

"Maka janganlah kalian menyucikan diri kalian sendiri, Dia Mahatahu terhadap orang yang bertakwa." (An-Najm: 32). Jadi, nama-nama yang tidak baik tidak terbatas pada nama yang jelek atau mempunyai makna yang tidak baik saja. Namun, bisa juga ia nama yang bermakna terlalu berlebihan, sehingga Allah tidak menyukainya, seperti nama "Malik Al-Amlak" (Raja Diraja), misalnya.

kemudian diganti oleh beliau menjadi Juwairiyah. Nabi kurang suka jika dikatakan; bahwa beliau baru keluar dari rumah Barrah.[8]
[8] Lihat; Shahih Muslim/Kitab Al-Adab/Bab Taghyir Ism Al-Qabih Ila Hasan/hadits nomor 3989, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Dalam beberapa riwayat lain disebutkan, bahwa yang dulunya bernama Barrah, adalah Maimunah. Sedangkan riwayat lain lagi mengatakan Zainab Radhiyallahu Anhuma.


                Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma menceritakan, bahwa salah seorang anak perempuan Umar ada yang bernama Ashiyah[9]. [9] Ashiyah, artinya perempuan yang bermaksiat.
 Lalu nama tersebut diganti oleh Nabi menjadi Jamilah.[10] [10] Jamilah, artinya cantik.
 [11] [11] Shahih Muslim/Kitab Al-Adab/Bab Taghyir Ism Al-Qabih Ila Hasan/hadits nomor 3988.

                Imam Malik meriwayatkan, bahwa Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu bertanya kepada seseorang, "Siapa namamu?" Dia menjawab, "Jamrah."[12] [12] Jamrah, artinya bara api/batu bara.
 Umar bertanya lagi, "Anak siapa?" Dia berkata, "Anak (bin) Syihab."[13] [13] Syihab, artinya cahaya api.
 Umar bertanya lagi, "Dari mana?" Dia berkata, "Dari Huraqah."[14] [14] Huraqah, artinya api yang membakar.
Umar masih bertanya, "Kamu tinggal di mana?" Dia berkata, "Di Harrat Nar."[15] [15] Harrat Nar, artinya perkampungan api.
Tanya Umar lagi, "Tepatnya di mana?" Dia berkata, "Di Dzat Lazha."[16] [16] Dzat Lazha, artinya inti api.
 Umar lalu berkata, "Kamu segeralah pulang. Lihatlah rumah dan keluargamu. Sesungguhnya mereka telah kebakaran!" Maka ketika dia sampai di rumahnya, ternyata rumahnya memang benar-benar telah terbakar, seperti yang dikatakan Umar.[17] [17] Al-Muwaththa`/Kitab Al-Jami'/Bab Ma Yukrahu Min Al-Asma`/hadits nomor 1541.

ahwalul qubur


KITAB
AHWALU   QUBUR
WA   AHWALUL    AHLIHA    ILAN   NUSYUR

اهو ل القبر   و اهول اهلهاالى النشور


Alam Barzakh  lan Lumakuning Roh sak wise Kematian

( IMAM  ZAINUDDIN IBNU RAJAB ALBAGHDADI)

Biodata : Imam Zainuddin Abdur Rohman bin Ahmad bin Rajab bin Al Baghdadi-al Hanbali – Abu al Faraj ; kang luwih terkenal kanthi sebutan Ibnu Rajab , lan kang manggon ana ing Damascus ( Baghdad).

Beliau  Imam Zainuddin ibnu Rajab  kagolong Hafal Al Qur’an ( Tahfidhul Qur’an ), Mufaqqih ( Ahli Fiqih ) Muhadits ( Ahli Hadits )  Muarrikh ( ahli sejarah). Pemberi Nasehat .

Belia imam Zainuddin  ibnu Rajab dilahirke ana ing tahun  763 H  ( ing tahun iki kalebu ana ing zaman ke emasane Baghdad – kota mercusuar ilmu Pengetahuan  ing wektu iku.

Guru Beliau  Imam Zainuddin ibnu Rajab  ing kota  Damascus  :
Muhammad Bin  Isma’il bin Ibrahim al Khobaz
Ibrahim bin Dawud al ‘Athor

Guru Beliau Imam Zainuddin ibnu Rajab ing kutho Mesir :
Abu Fatah al Maydumi
Abu Al Harom al Qolasani
Ibnul Muluk


اهو ل القبر   و اهول اهلهاالى النشور


Alam Barzakh  lan Lumakuning Roh sak wise Kematian

BAB I
-Uwong mati sak wise mlebu ana ing alam kubur
-Pitakonane Malaikat
-Penyebab petenge kubur
-Penyebab Ciute kubur
-Panggonan kang tansah katon : Suargo    Utawa Naraka.



Alloh SWT berfirman : ( Q.S . IBARHIM  ( S :14) (A: 17)  (J:23 )


àMÎm6sVムª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ÉAöqs)ø9$$Î/ ÏMÎ/$¨V9$# Îû Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# Îûur ÍotÅzFy$# ( @ÅÒãƒur ª!$# šúüÏJÎ=»©à9$# 4 ã@yèøÿtƒur ª!$# $tB âä!$t±tƒ ÇËÐÈ  
27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu[788] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

[788] Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimatun thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas.

öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ