Tampilkan postingan dengan label tarikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarikh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

Kisah Nabiyullah Yunus Alaihis Salam

Kisah Nabiyullah Yunus Alaihis Salam


Pengantar
Kisah Nabiyullah Yunus mengandung keajaiban dan keunikan. Dia dibuang ke laut dan dimakan ikan. Di sanalah dia berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya. Maka Dia menyelamatkan dan menjaganya dari kebinasaan. Dia memerintahkan ikan agar memuntahkannya di tepi pantai.
Hadis ini mengandung tambahan keterangan dari apa yang disebutkan oleh Al-Qur'an tentang kisahnya. Ia menjelaskan sebab-sebab mengapa Yunus marah, lalu  naik perahu menjauh dari keluarga dan negerinya.
Teks Hadis
Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sesungguhnya Yunus menjanjikan adzab kepada kaumnya. Dia memberitakan bahwa ia akan datang kepada mereka dalam tiga hari. Mereka ketakutan, hingga ibu berpisah dengan anaknya. Kemudian mereka keluar dan kembali kepada Allah untuk memohon ampun darinya. Maka Allah menahan adzab dari mereka. Sementara itu Yunus menantikan turunnya adzab dan dia tidak melihat apapun. Barang siapa berdusta dan tidak memiliki bukti maka dia dibunuh. Maka Yunus pergi dalam keadaan marah, hingga dia bertemu suatu kaum di atas perahu. Yunus ikut bersama mereka dan mereka mengenalnya. Ketika Yunus naik perahu, perahu itu tiba-tiba terhenti  padahal perahu-perahu lainnya berjalan hilir-mudik ke kanan dan ke kiri.  Yunus berkata, 'Ada apa dengan perahu kalian?' Mereka menjawab, 'Entahlah.' Yunus berkata, 'Akan tetapi, aku tahu. Di atas perahu ini terdapat seorang hamba yang kabur dari Tuhannya. Perahu ini, demi Allah, tidak akan berjalan hingga kalian membuang orang itu.' Mereka menjawab, 'Kalau kamu wahai Nabiyullah, maka kami tidak akan melemparkanmu.' Yunus berkata, 'Buatlah undian. Siapa yang keluar namanya, maka dia harus terjun ke laut.' Lalu  mereka membuat undian. Yunus mengundi mereka tiga kali dan yang keluar selalu namanya. Yunus pun terjun ke laut dan langsung seekor ikan besar telah menantinya. Begitu Yunus terjun, ikan itu langsung menelannya. Ikan itu turun ke dasar laut. Yunus mendengar tasbih batu-batu kecil. "Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Al-Anbiya: 87).  Ibnu Mas'ud berkata, "Kegelapan di dalam perut ikan besar, kegelapan laut, dan kegelapan malam."
Dia berkata, "Kalau sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia benar-benar dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela." (Al-Qalam: 49).
Dia berkata, 'Yunus seperti anak burung yang telanjang dan tidak berbulu, dan Allah menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis labu. Yunus makan dari pohon itu dan berteduh di  bawahnya. Pohon itu mengering dan Yunus menangisinya, maka Allah mewahyukan kepadanya, "Apakah kamu menangisi sebuah pohon yang mengering dan tidak menangisi seratus ribu orang atau lebih di mana kamu hendak mencelakakan mereka?"
Maka Yunus keluar. Dia bertemu dengan seorang pengembala kambing. Yunus  bertanya kepadanya, 'Anak muda, dari mana kamu?' Dia menjawab, 'Dari kaum Yunus.' Yunus berkata, 'Jika engkau pulang, maka sampaikan salam kepada mereka. Katakan kepada mereka kalau kamu telah bertemu Yunus.'
Anak muda itu berkata, "Jika kamu memang benar Yunus, maka tentu kamu tahu bahwa barangsiapa yang berbohong dan dia tidak mempunyai bukti, dia akan dibunuh. Lalu siapa yang bersaksi untukku?" Yunus menjawab, "Saksimu adalah pohon ini dan lembah ini." Anak muda itu berkata, "Perintahkan keduanya." Maka Yunus berkata kepada pohon dan lembah itu, "Jika anak muda ini datang kepada kalian berdua, maka bersaksilah untuknya." Keduanya menjawab, "Ya."
Anak muda itu pulang kepada kaumnya. Dia memiliki saudara-saudara yang melindunginya. Dia menghadap raja dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah bertemu Yunus, dia menyampaikan salam kepada kalian." Maka raja memerintahkan agar anak muda ini dibunuh. Dikatakan kepada raja, "Dia punya bukti." Raja pun mengutus seorang pergi bersama anak muda itu. Mereka tiba di pohon dan lembah. Anak muda itu berkata kepada keduanya, "Aku bertanya kepada kalian berdua dengan nama Allah, apakah Yunus menjadikan kalian berdua sebagai saksi?" Keduanya menjawab, "Ya." Maka kaumnya pulang dalam keadaan ketakutan. Mereka berkata, "Pohon dan bumi bersaksi untukmu." Mereka mendatangi raja dan menceritakan apa yang mereka lihat. Raja menuntun tangan anak muda itu dan mendudukkannya di singgasanaya seraya berkata, "Kamu lebih berhak terhadap kursi ini daripada aku." Maka anak muda itu memimpin mereka selama empat puluh tahun."
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf, 11/541, no. 1195, Kitab Fadhail Yunus. Sururi dalam  Ad-Durrul Mantsur menisbatkanya kepada Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf , Ahmad dalam Az-Zuhd, Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Mas'ud. Dan Hafidz Ibnu Hajar menukil sepenggal darinya dan dia menyatakan bahwa riwayat Ibnu Abi Hatim adalah shahih. Fathul Bari (6/452). Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Ibrahim Al-Ali dalam Al-Ahadis Ash-Shahihah min Akhbaril Anbiya, hlm. 122. no. 177)
Penjelasan Hadis
Yunus bin Matta adalah seorang nabi dan rasul. Allah mewahyukan kepadanya seperti Allah mewahyukan kepada rasul-rasul yang lain, "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul." (Ash-Shaffat: 139). "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (An-Nisaa: 163). Dia termasuk orang-orang shalih yang terpilih. Allah melebihkan mereka dari manusia-manusia yang lain. "Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. Masing-masing kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." (Al-An'am: 86).
Allah telah  memberitakan bahwa Yunus meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, "Dan ingatlah Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah." (Al-Anbiya: 87). Dan bahwa dia kabur dengan perahu yang sarat muatan (penuh beban), "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, ingatlah ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan."  (Ash-Shaffat: 139-140).
Rasulullah  memberitakan alasan kaburnya Yunus dan bagaimana dia bisa marah. Hal itu karena dia menjanjikan adzab kepada kaumnya setelah sekian lama mereka mendustkan rasul mereka. Yunus menyatakan bahwa adzab akan turun menimpa mereka setelah tiga hari. Ketika mereka telah yakin bahwa adzab pasti turun, mereka bertaubat dan kembali kepada Allah. Mereka menyesali sikap mereka  yang mendustakan rasul mereka. Dan keadaan mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh rasululah di dalam hadis ini, mereka memisahkan anak hewan dari induknya dan anak manusia dari ibunya. Kemudian mereka keluar dan berdoa kepada Allah. Suara mereka berampur baur. Mereka berdoa dan bertawassul dengan-Nya. Ibu-ibu dan induk-induk hewan berteriak sebagaimana anak-anak berteriak mencari ibu-ibu mereka. Maka Allah menahan adzab-Nya dari mereka. Ibnu Katsir berkata, "Ibnu Mas'ud, Mujahid, Said bin Jubair dan banyak ulama dari kalangan salaf dan khalaf berkata, 'Manakala Yunus keluar dari kota mereka, dan mereka yakin adzab akan turun kepada mereka, Allah memberi mereka taufik untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, dan mereka menyesal atas sikap mereka selama ini kepada Nabi mereka. Maka mereka memakai pakaian ibadah dan memisahkan semua ternak dengan anaknya, kemudian mereka berdoa kepada Allah. Mereka mengangkat suara, merendahkan dan menundukkan diri mereka kepada-Nya. Kaum laki-laki, para wanita, anak-anak, laki-laki dan perempuan, serta para ibu, semuanya menangis. Binatang ternak, binatan melata, semuanya bersuara, unta dan anaknya berteriak, sapi dan anaknya melenguh, kambing dan anaknya mengembik. Saat-saat yang mencekam. Lalu Allah dengan daya dan kekuatan-Nya menahan adzab yang hampir menimpa mereka dengan sebab, dan ia telah berputar di atas kepala mereka seperti sepotong malam yang kelam. (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/232). Oleh karena itu Allah berfirman, "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu." (Yunus: 98)
Allah telah memberitakan kepada kita bahwa iman kaum Yunus berguna bagi mereka setelah adzab hampir turun menimpa mereka, dan Allah pun menariknya padahal ia telah menaungi mereka.
Tiga hari yang dijanjikan oleh Yunus kepada kaumnya telah berlalu. Yunus datang untuk melihat terwujudnya janji Allah atas mereka. Mungkin saat itu Yunus menyendiri, tidak bersama kaumnya, maka dia tidak mengetahui taubat dan insafnya mereka. Ketika Yunus menengok mereka, dia mendapati mereka dalam keadaan selamat. Hal ini membuatnya marah. Dan bagi mereka, balasan untuk orang berdusta adalah dibunuh. Maka Yunus kabur karena takut dibunuh.
Yunus terus berjalan hingga mencapai pantai. Dari pengamatan terhadap teks hadis menunjukkan bahwa perginya Yunus ini tanpa izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, Allah Tabaraka Wa Taala menyatakan bahwa Yunus adalah orang yang abiq (pergi tanpa permisi; pent). Abiq  adalah hamba sahaya yang melarikan diri dari majikannya. "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul, ingatlah ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan." (Ash-Shaffat: 139 -140). Semestinya Yunus harus rela dengan keputusan Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya. Bukan hak seorang hamba untuk marah kepada perbuatan Tuhannya. Yunus semestinya juga tidak pergi tanpa izin-Nya. Oleh karena itu, Allah melarang Rasul-Nya agar tidak seperti orang yang ditelan ikan besar, yaitu Yunus Alaihis Salam, "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah kamu seperti orang yang berada di dalam perut ikan besar." (Al-Qalam: 48).
Ketika Yunus tiba di pantai, dia mendapati suatu kaum berada di sebuah perahu. Mereka mengenalnya dan membawanya  bersama mereka  atas dasar permintaannya. Ketika perahu sampai di tengah lautan, ia tiba-tiba terhenti dan tidak bergerak. Ini benar-benar aneh. Perahu-perahu lain di kanan dan kirinya berjalan hilir-mudik, sementara ia sendiri berhenti di atas air dan tidak bergerak. (Yang termaktub di dalam mayoritas hadis yang menjelaskan kisah Nabiyullah Yunus adalah bahwa penyebab Yunus dibuang adalah laut yang bergolak dan mereka takut tenggelam, bukan karena perahunya berhenti dan tidak bergerak. Mana yang benar? Wallahu A'lam). Yunus mengetahui bahwa berhentinya perahu adalah disebabkan oleh dirinya. Dia menyampaikan kepada penghuni perahu tentang sebab berhentinya, karena adanya seorang hamba yang lari dari Tuhannya di perahu mereka, yakni dirinya sendiri, "Ketika dia berlari kepada perahu yang penuh muatan." Ash-Shaffat: 140). Perahu itu tidak berjalan sementara hamba itu  berada di atasnya. Dia harus dibuang ke laut agar perahu  bisa berjalan seperti perahu-perahu lainnya. Mereka menolak karena mereka mengetahui bahwa Yunus adalah Nabi Allah yang mempunyai kemuliaan di sisi-Nya.
Yunus berkata kepada mereka, "Lakukanlah undian. Siapa yang mendapatkan undian, maka dialah yang dilempar ke laut." Mereka mengundi. Yunus memperoleh undian, hingga diulang kedua dan ketiga kalinya. Selaku Yunus, dan undian inilah yang dimaksud oleh firman Allah, "Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian." (Ash-Shaffat: 141).
Manakala Yunus mengetahui hal itu, dia menceburkan dirinya ke laut. Begitu dia sampai di laut, dia langsung disambut oleh ikan besar. Bisa jadi para penumpang perahu itu melihat ikan besar tersebut melahap Yunus, maka mereka yakin kalau Yunus telah mati. Tidak ada seorangpun yang ditelan  ikan besar  bisa selamat sebelum Yunus, "Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah. Maka dia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela." (Ash-Shaffat: 141-142).
Firman-Nya, "Dalam keadaan tercela," yakni melakukan sesuatu yang mengundang celaan. Dia meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, hanya karena adzabnya tidak turun tanpa izin dari Allah.
Allah memerintahkan ikan agar tidak mencelakai hamba shalih Yunus. Maka ikan besar itu membawanya ke dasar lautan. Yunus dikelilingi oleh beberapa kegelapan: kegelapan dasar laut, kegelapan perut ikan besar, dan kegelapan malam. "Lalu dia menyeru dalam kegelapan-kegelapan." (Al-Anbiya: 87).
Di dalam perut ikan itu Yunus mendengar tasbih kerikil  dan hewan-hewan laut di dasar laut. Dia pun memanggil Tuhannya dengan bertasbih kepadanya, mengakui kesalahannya, dan menyesali apa yang dilakukannya. "Maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahkan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya: 87).
Allah mendengar panggilannya. "Dzat yang mengetahui rahasia dan bisikan, yang mengangkat kesulitan dan kesusahan, Maha Mendengar suara walaupun ia lemah, mengetahui yang   rahasia walaupun ia tersembunyi, yang menjawab doa-doa walau ia dosa besar." (Al-bidayah wan Nihayah, (1/233) "Maka Kami menjawab doanya dan menyelematkannya dari kesulitan." (Al-Anbiya:88).
Kalau bukan karena tasbihya dan taubatnya kepada Allah, niscaya dia akan binasa di perut ikan dan diam di dalamnya sampai hari kebangkitan. "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kebangkitan." (Ash-Shaffat: 143-144).
Setelah Yunus berdoa, Allah meminta agar ikan memuntahkannya di pantai. Maka ikan itu melakukan apa yang diminta oleh Allah kepadanya. Yunus dimuntahkan dalam keadaan sakit, kulitnya mengelupas dan tanpa kekuatan. "Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedangkan dia dalam keadaan sakit." (Ash-Shaffat: 145).
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjelaskan keadaan Yunus. Kulitnya mengelupas karena berenang di dalam cairan perut ikan, dan ketika ikan itu melemparkannya ke pantai, dia seperti anak burung yang dicabuti bulunya dan tidak tersisa sedikitpun.
Di tempat Yunus terdampar, Allah menumbuhkan pohon sejenis labu. "Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu." (Ash-Shaffat: 146).
Pohon sejenis labu(yaqthin). Orang-orang yang mengetahui pengobatan menyebutkan bahwa yaqthin ini adalah makanan yang baik bagi tubuh, cocok dengan kondisi perut, dan sesuai dengan pencernaan. Airnya bisa menghilangkan dahaga dan menghilangkan nyeri. Ilmu kedokteran modern menyatakan bahwa pohon ini mudah dicerna, menenangkan, melunakkan, melembabkan, menghaluskan, melancarkan air kencing dan membersihkan hati, juga  bisa digunakakan sebagai obat untuk berbagai penyakit. (Lihat kamus Al-Ghidza' wat Tadawi bin Nabat, hlm. 754).
Rasulullah telah memberitakan kepada kita bahwa Yunus bernaung di bawah pohon itu dan makan darinya. Pohon itu mengering setelah beberapa waktu. Maka Nabiyullah Yunus menangisinya, lalu Allah mewahyukan kepadanya untuk memperingatkannya, "Apakah kamu menangisi sebuah pohon yang mengering sementara kamu tidak menangisi seratus ribu orang atau lebih di mana kamu  hampir mencelakai mereka?"
Ketika Yunus sehat, dia mulai bisa berjalan dan bergerak. Dia berjalan meninggalkan daerah itu. Dia bertemu dengan seorang anak muda penggembala kambing. Yunus bertanya tentang anak muda itu. Pemuda itu menjawab, "Dari kaum Yunus." Maka Yunus memintanya agar menyampaikan salam kepada kaumnya dan memberitahu mereka bahwa dia telah bertemu Yunus.
Anak muda ini cerdik. Dia mengerti kebiasaan yang berlaku di dalam kaum Yunus terhadap pendusta. Dia berkata kepada Yunus, "Jika kamu benar Yunus, maka kamu mengetahui  bahwa barangsiapa berdusta dan tidak mempunyai bukti, maka dia dibunuh. Lalu siapa yang bersaksi untukku?" Yunus menjawab, "Pohon ini dan dataran ini bersaksi untukmu."
Anak muda itu berkata, "Perintahkan kepada keduanya." (Yakni agar bersaksi untuknya).  Yunus berkata kepada keduanya, "Jika anak muda ini mendatangi kalian berdua, maka bersaksilah untuknya." Keduanya menjawab, "Ya." Semua itu dengan kodrat Allah.
Anak muda itu pun pulang kepada kaumnya. Dia mempunyai saudara-saudara yang memiliki kedudukan dan kehormatan  di kaumnya, sehingga dia bisa berlindung kepada mereka dari orang-orang yang hendak menyakitinya. Anak muda itu datang kepada raja untuk menyampaikan kalau dirinya telah bertemu dengan Yunus, dan Yunus menitipkan salam kepadanya dan kepada kaumnya. Sepertinya raja dan kaumnya telah yakin kalau Yunus telah binasa. Lebih-lebih para penumpang perahu yang pasti telah bercerita tentang Yunus yang mencebur ke laut dan ditelan ikan besar. Maka ucapan anak muda itu tentang Yunus dianggap dusta. Oleh karenanya raja memerintahkan agar anak muda itu dibunuh.
Anak muda itu menyatakan dirinya mempunyai bukti kebenaran. Maka raja mengirimkan beberapa orang  untuk mengiringinya. Ketika mereka tiba di pohon dan di daratan yang diperintahkan oleh Yunus agar bersaksi untuk anak muda itu, ia berkata kepada keduanya, "Aku bertanya kepada kalian berdua dengan nama Allah, apakah Yunus memerintahkan kalian berdua untuk menjadi saksi bagiku?" Keduanya menjawab, "Ya."
Mereka pulang dalam ketakutan. Mereka menyampaikan apa yang mereka dengar kepada raja. Raja langsung turun dari singgasananya, menuntun anak muda itu dan mendudukkannya di singgasananya seraya berkata, "Kamu lebih berhak dengan tempat ini daripada aku."
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan bahwa anak muda ini memimpin selama empat puluh tahun. Dia menegakkan urusan mereka dan memperbaiki perkara mereka.
Dan nampaknya perintah Yunus kepada anak muda itu, agar menyampaikan salamnya kepada kaumnya dan memberitakan bahwa dirinya masih hidup dengan kesaksian daratan dan pohon itu adalah untuk menunjukkan kepada kaumnya  bahwa dia tidak berdusta kepada mereka. Semua itu terjadi dengan perintah Allah. Kesaksian daratan dan pohon itu bagi anak muda tersebut merupakan kesaksian bagi Yunus bahwa dia adalah Nabi. Dan Nabi adalah orang  yang jujur, bukan pendusta.
Dan dalil-dalil yang ada di tangan kita menunjukkan bahwa Yunus pulang kepada kaumnya setelah mereka beriman. Ini berdasarkan firman Allah, "Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih." (Ash-Shaffat: 147). Mereka adalah kaum Yunus , sebagaimana disebutkan dalam hadis ini tentang celaan Allah kepada Yunus yang tidak bersedih karena lebih dari seratus ribu kaumnya yang binasa.
Versi Taurat
Kisah ini terdapat di dalam Taurat  dalam satu Safar lengkap yang khusus menjelaskannya. Safar ini diberi nama Safar Yunan bin Amatan. Taurat menyatakan bahwa dia adalah salah seorang Nabi Bani Israil. Yang pasti adalah bahwa Nabi ini adalah Yunus bin Matta. Nama-namanya terdapat kemiripan dalam lafadznya. Kisahnya mengandung sebagian kejadian dan peristiwa yang dibicarakan oleh Al-Qur'an dan hadis, walaupun terdapat kekurangan dan perubahan disebabkan oleh penyelewengan yang menimpa Taurat.
Dan sebagian hadis shahih menyatakan bahwa Nabi ini adalah Yunus  bin Matta. (Shahih Bukhari, 6/450, Shahih Muslim, 1/152, no. 166).
Nama asli Yunan menurut orang-orang Yahudi adalah Yunatsan, yang berarti pemberian Allah, atau sebagaimana dikatakan oleh para penjelas Taurat, "Yehova memberi" (yakni, Allah memberi). Yehova menurut mereka adalah Allah. (Qamusul Kitabil Muqaddas, hlm. 1123)
Taurat menyatakan bahwa dia berasal dari kota Palestina yang bernama Jat Hafir (Safar Muluk kedua, Ishah 14 poin 25). Kota ini terletak dekat dengan kota Nashira, sejauh tiga mil darinya.
Salah satu suku Bani Israil bernama Zablun (Safar Yasyu', Ishah 19 poin 10-16). Oleh karena itu, para penjelas Taurat menguatkan bahwa Yunan berasal dari suku ini. Hanya Allah yang mengetahui kebenaran berita-berita seperti ini.
Taurat mengklaim bahwa Allah mengutus Yunus dari kotanya di Palestina kepada penduduk Ninaway ketika keburukan dan kejahatan merajalela di kalangan mereka, agar dia memperingatkan mereka terhadap adzab dan siksa  Allah. Ninaway adalah kota besar dekat kota Moshul di Irak. Lalu Yunus menolak pergi ke kota itu, karena ia takut terhadap keburukan penduduknya. Yunus lari dari Allah Tabaraka wa Taala. Dia naik perahu dari kota Yafa ke kota yang jauh bernama Tarsyisy. Para penafsir Taurat menyatakan bahwa kota ini berada di Maroko atau Spanyol. Aku tidak mengerti bagaimana Yunus menjadi nabi lalu dia mengira mungkin bisa lari dari Allah.
Ketika perahu sampai di tengah lautan, lautan bergolak dan bergejolak sampai perahu hampir pecah. Maka para penumpang  membuang barang bawaan mereka agar perahu tidak karam. Pada saat itu Yunus sedang tidur di bagian bawah perahu. Nakhoda mendatanginya dan membangunkannya. Dia meminta kepada Yunus berdoa kepada Allah agar menyelamatkan mereka dari kesulitan tersebut.
Sebagian penumpang mengusulkan agar dilaksanakan undian, bukan untuk meringankan beban perahu,  melainkan  untuk mengetahui seorang penumpang penyebab kesulitan yang menimpa mereka. Yunus memperoleh undian. Mereka pun bertanya-tanya tentang kejadian apa yang menimpa Yunus. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengenalnya ketika Yunus naik pertama kali bersama mereka. Ketika mereka mengetahui bahwa Yunus lari dari hadapan Allah, mereka ketakutan. Yunus meminta mereka agar melemparkannya ke laut, sehingga mereka bisa selamat dari murka Allah, karena dia mengetahui bahwa dialah penyebab dari bergelaknya laut. Lalu mereka melemparkannya ke laut. Yunus ditelan ikan besar. Dia tertahan di perut ikan selama tiga hari tiga malam. Taurat menyebutkan doa yang dibaca oleh Yunus kepada Tuhannya. Doanya bukan doa di dalam Al-Qur'an. Allah memerintahkan ikan agar memuntahkannya ke daratan, lalu memerintahkannya agar pergi ke kota Ninaway untuk memberi peringatan kepada penduduknya dan memberitahukan kepada penduduknya bahwa kota mereka akan diadzab setelah empat puluh hari.
Ketika penduduk Ninaway mengetahui peringatan Yunus, merekapun bertaubat, beriman dan kembali kepada Allah. Mereka berdo'a kepada-Nya, maka Allah mengampuni dan menyayangi mereka. Hal ini membuat Yunus kesal dan marah karena Allah menyayangi mereka. Yunus  menyalahkan Tuhannya atas ampunan-Nya kepada mereka. Yunus meninggalkan kota. Dia duduk di arah timur dari kota itu dibawah payung yang dibuatnya, untuk melihat apa yang terjadi di kota. Lalu Allah menumbuhkan pohon labu besar yang menaunginya agar dia melupakan kekesalannya. Yunus berbahagia dengan pohon itu. Esok harinya, pada saat terbit fajar, pohon labu itu mongering karena Allah mengirim ulat yang memakannya. Yunus bersedih karenanya, maka Tuhannya mencelanya atas kesedihannya terhadap kematian pohon labu, sementara dia tidak bersedih atas binasanya sejumlah besar penduduk Ninaway.
Dalam Ishah pertama dalam Safar Yunan termaktub, "Tuhan berfirman kepada Yunan bin Amatan, 'Bangkitlah, pergilah ke Ninaway, kota yang besar, serukan padanya karena keburukan mereka telah sampai dihadapan-Ku."
Maka Yunan pun bangkit untuk pergi ke Tarsyisy dari wajah Tuhan. Dia singgah di Yafa dan menemukan perahu yang berangkat ke Tarsyisy. Dia membayar ongkos dan naik ke tasnya untuk pergi bersama mereka ke Tarsyisy dari wajah Tuhan.
Tuhan mengirim angin kencang ke laut. Maka terjadilah badai besar di laut yang hampir memecahkan perahu. Para penumpang ketakutan. Semuanya berdoa kepada Tuhan, barang-barang mereka dibuang ke laut untuk meringankan beban perahu.
Yunan sendiri masuk ke lambung perahu, dia tidur nyenyak. Nakhoda mendatanginya dan berkata, "Mengapa kamu hanya tidur? Bangun dan berdoalah kepada Tuhanmu, semoga Tuhan menarik badai ini sehingga kita semua tidak celaka."
Sebagian penumpang berkata kepada sebagian yang lain, "Kita membuat undian supaya kita mengetahui siapa penyebab kesulitan ini." Mereka membuat undian. Maka Yunanlah yang meraih undian.
Mereka berkata kepadanya, "Katakanlah apa penyebab semua ini? Apa yang kamu lakukan? Darimana kamu datang? Apa kotamu? Dari bangsa mana kamu ini?" Yunan menjawab, "Aku orang Ibrani. Aku takut kepada Tuhan langit yang menciptakan  langit dan bumi." Maka para penumpang ketakutan. Mereka berkata kepada Yunan, "Mengapa kamu melakukan ini?" Orang-orang mengetahui bahwa dia berlari dari wajah Tuhan karena dia memberitahukan kepada mereka. Mereka berkata, "Apa yang mesti  kami lakukan kepadamu agar laut ini bisa tenang?" Pada waktu itu laut semakin bergejolak.
Yunan berkata, "Lemparkan aku ke laut, niscaya laut menjadi tenang, karena aku tahu dirikulah penyebab datangnya badai besar ini kepada kalian." Para penumpang berusaha membelokkan perahu ke daratan, akan tetapi mereka tidak berhasil karena laut semakin bergejolak. Mereka berdoa kepada Tuhan, "Ya Rabbi, kami tidak mau celaka Al-Qur'an disebabkan oleh jiwa laki-laki ini. Janganlah Engkau menjadikan atas kami darah yang bebas, karena Engkau, ya Rabbi, melakukan apa yang Engkau kehendaki." Kemudian mereka membuang Yunan ke laut, maka laut berhenti bergejolak. Orang-orang sangat takut kepada Tuhan. Mereka menyembelih untuk Tuhan dan bernadzar untuk-Nya. Tuhan menyiapkan ikan besar yang menelan Yunan. Maka Yunan berada di dalam perut ikan besar selama tiga hari tiga malam.
Dalam Ishah kedua tertulis, "Yunan berdoa kepada Tuhan-nya di dalam perut ikan. Dia berkata, 'Aku berdoa dari kesulitanku, ya Tuhan, maka perkenankanlah. Aku berteriak dari perut ikan besar maka Engkau mendengar suaraku. Karena Engkau telah melemparkanku ke kedalaman di dasar lautan, aku diliputi oleh sungai, di atasku  bergejolak seluruh arus dan gelombang-Mu, maka aku berkata, 'Aku telah diusir dari hadapan mata-Mu, akan tetapi aku kembali melihat kepada bentuk kesucian-Mu. Air telah meliputiku mencekik nafas, arus deras meliputiku, rumput laut mengelilingi kepalaku. Aku turun gunung yang paling bawah, bumi tertutup atasku untuk selama-lamanya. Kemudian, ya Rabbi, Tuhanku, hidupku naik dari tempat rendah ketika nafasku semakin sulit bagiku. Aku mengingat Tuhan, maka doaku mendatangimu, kepada bentuk kesucianmu orang-orang menjaga kebatilan-kebatilan dusta meninggalkan nikmat mereka. Dengan suara pujian aku menyembelih untukmu dan menunaikan apa yang aku nadzarkan. Ikhlas karena Tuhan." Maka Tuhan memerintahkan ikan untuk ia memuntahkan Yunan ke daratan.
Dalam Ishah ketiga tertulis, "Kemudian Tuhan berfirman kepada Yunan untuk kedua kalinya, 'Bangkitlah, pergilah ke Ninaway kota yang besar, serukan kepadanya dengan seruan yang aku sampaikan kepadamu.'
Yunan bangkit. Dia pergi ke Ninaway seperti dalam firman Tuhan. Ninaway adalah kota yang besar bagi Allah, berjarak perjalanan selama tiga hari. Yunan mulai masuk kota dengan perjalanan satu hari. Dia berseru, "Ninaway akan dibalik setelah empat puluh hari."
Penduduk Ninaway beriman kepada Allah dan mereka menyerukan berpuasa. Mereka memakai pakaian ibadah, baik orang dewasa maupun anak-anak. Hal ini didengar oleh raja Ninaway. Dia pun bangkit dari kursinya, melepas jubahnya, menutup diri dengan pakaian ibadah dan duduk di atas abu. Di Ninaway diserukan bahwa perintah raja dan pembesarnya, "Hendaknya manusia, hewan ternak, sapi dan kambing tidak mencicipi apa pun. Tidak digembalakan dan tidak minum air. Hendaknya manusia menutup diri, demikian pula  binatang ternak, dengan pakaian ibadah. Mereka berteriak dengan keras kepada Allah. Setiap orang meninggalkan jalan hidupnya yang buruk dan membuang kedzaliman yang ada di tangan mereka. Semoga Allah kembali dan menyesal dan menghapus adzab-Nya, maka kita tidak binasa."
Ketika Allah melihat amal mereka, bahwa mereka meninggalkan kehidupan mereka yang buruk, maka Allah menyesal atas keburukan yang telah diucapkannya untuk dilaksanakan kepada mereka. Dia pun tidak melaksanakannya."
Dalam Ishah keempat termaktub, "Maka hal itu membuat Yunan sangat kesal. Dia marah dan berdoa kepada Tuhan. Dia berkata, "Ya Tuhan, bukankah ini adalah ucapanku manakala aku masih di kotaku? Oleh karena itu aku segera berlari ke Tarsyisy, karena aku mengetahui bahwa Engkau mengasihi dan menyayanginya, tidak cepat marah, banyak rahmat dan menyesal atas keburukan. Maka sekaranglah, wahai Tuhan, cabutlah nyawaku dari diriku karena kematianku lebih baik daripada kehidupanku." Tuhan bertanya, "Apakah kamu marah kepada kebenaran?"
Yunan keluar dari kota itu. Dia duduk di sebelah timur kota. Di sana dia membuat payung dan duduk di bawahnya sehingga dia bisa melihat apa yang terjadi di kota. Maka Tuhan menumbuhkan sebuah pohon labu yang tingginya melebihi Yunan sehingga  bisa memayungi kepalanya, agar dia melupakan kesedihannya. Karena pohon labu ini Yunan menjadi sangat bahagia. Kemudian esok harinya di waktu fajar, Allah mengirimkan ulat yang menyerang pohon labu hingga mengering. Dan pada waktu terbit matahari Allah mengirim angin timur yang panas. Matahari memanaskan kepala Yunan dan pohon itu mongering. Lalu Yunus memilih mati untuk dirinya. Dia berkata, "Matiku lebih baik dari hidupku."
Allah berfirman kepada Yunan, "Apakah kamu marah terhadap kebenaran demi sebatang pohon labu?" Yunan menjawab, "Aku  marah kepada kebenaran sampai mati." Tuhan berkata, "Kamu mengasihi sebatang pohon labu padahal ia bukan hasil keringatmu, bukan pula kamu yang merawatnya. Ia tumbuh di malam apa pun dan kamu meninggalkannya pada malam ketika ia mengering. Apakah aku tidak mengasihi orang-orang Ninaway, kota yang besar di mana terledapat lebih dari dua belas kabilah manusia yang tidak mengenal mana yang kanan dari yang kiri dan ternak mereka yang banyak?"
Komentar terhadap Versi Taurat
Barang siapa membaca kisah ini dalam Taurat setelah dia mengetahui kisah yang benar di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shahih, maka dia mengetahui bahwa kisahnya telah diselewengkan dan dirubah. Yang tersisa dari kebenaran hanyalah sedikit, ibarat puing-puing yang tersisa dari kota mati. Orang yang mengenalnya dengan baik hampir tidak mengenalinya kecuali dengan usaha keras dan penuh kesulitan.
Tanpa ragu, kisah Yunus adalah benar, bukan khayalan yang direkayasa sebagaimana diklaim oleh sebagian penjelas Taurat. Dan kami tidak mengetahui sejauh mana kebenarannya bahwa Yunus berasal dari bumi Palestina dan diutus oleh Allah ke Ninaway di bumi Irak. Yang nampak bagiku adalah bahwa hal ini tidak benar. Rasulullah telah menyampaikan kepada kita bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul setelah Luth, kecuali jika dia di puncak nasab kaumnya. Bagaimana bisa Yunus bukan dari penduduk kota di mana dia diutus kepadanya? Al-Qur'an secara nyata meyatakan bahwa penduduk kota di mana Yunus diutus kepada mereka adalah kaumnya, "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu." (Yunus:98).  Bagaimana bisa mereka adalah kaum Yunus sementara dia dianggap orang asing bagi mereka ? ini adalah pemahaman yang jauh.
Klaim Taurat bahwa Yunus menolak perintah Allah kepadanya agar pergi ke Ninaway adalah klaim yang salah. Tidak mungkin bagi seorang Yunus yang diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menolak perintah Allah kepadanya. Dan klaim Taurat bahwa Yunus naik perahu sebelum sampai di Ninaway adalah klaim yang salah pula. Hadis secara jelas menyatakan  bahwa kejadian itu setelah dia pergi meninggalkan kaumnya  karena adzab yang tidak turun kepada mereka.
Hadis menyatakan bahwa para penumpang perahu mengenal Yunus tidak sebagaimana yang dinyatakan oleh Taurat bahwa mereka tidak mengenalnya. Hadis juga menyatakan bahwa Yunuslah yang meminta agar dilakukan undian, tidak sebagaimana yang dinyatakan oleh Taurat bahwa merekalah yang meminta itu. Hadis menyatakan bahwa undian dilakukan tiga kali, bukan satu kali seperti yang dikatakan oleh Taurat. Hadis menyatakan bahwa Yunus melemparkan dirinya ke laut, tidak sebagaimana Taurat yang menyatakan bahwa merekalah yang melemparkannya.
Taurat menyatakan bahwa pada saat laut bergejolak Yunus sedang tidur nyenyak, ini tidak benar. Ini menjelek-jelekkan Nabi Yunus. Tidur nyenyak dalam situasi seperti ini bukanlah tabiat orang-orang besar.
Al-Qur'an membenarkan Taurat dalam beberapa hal, seperti ketika Yunus ditelan ikan besar. Akan tetapi Taurat tidak menyinggung bahwa Yunus mendengar tasbih batu-batu di lautan seperti disebutkan oleh hadis. Dan doa yang dibaca oleh Yunus dalam Taurat bukanlah doa yang disebutkan oleh Al-Qur'an yang sesuai dengan kondisinya. Doa dalam Taurat yang tidak mengandung pengakuan  terhadap kesalahannya.
Yang ada di dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis shahih adalah bahwa Yunus mengajak kaumnya, orang-orang Ninaway, tapi mereka menolak untuk beriman. Yunus mengancam mereka dengan adzab dan kebinasaan. Begitulah umat-umat para rasul mereka tidak diadzab kecuali jika hujjah telah tegak atas mereka. Adapun yang dinyatakan oleh Taurat bahwa Yunus datang memberitakan adzab kepada mereka yang akan turun setelah empat puluh hari tanpa peringatan terlebih dahulu dan tanpa pergolakan panjang, menyelisihi apa yang sudah terbiasa dalam urusan dakwah para rasuk kepada kaum mereka.
Taubat penduduk Ninaway dan kembalinya mereka kepada Allah yang disebutkan oleh Taurat dibenarkan oleh Al-Qur'an. Binatang ternak yang dipisahkan dari anak-anaknya yang disebutkan oleh Taurat juga dinyatakan benar oleh hadis. Dan di dalam hal ini, Taurat memuat perincian yang mungkin saja benar, namun pengungkapan penyesalan Allah atas keburukan yang hendak dilakukannya kepada penduduk kota adalah pengungkapan yang buruk lagi salah. Yang benar adalah bahwa Allah menerima taubat mereka dan mengasihi mereka.
Taurat menyatakan bahwa Yunus marah terhadap rahmat Allah kepada penduduk kota lalu dia menyalahkan-Nya. Ini tidak benar. Yang benar adalah bahwa Yunus takut dibunuh karena adzab Allah tidak turun menimpa mereka. Hukum pendusta di lingkungan mereka adalah dibunuh.
Yunus memperingatkan mereka dengan adzab setelah empat puluh hari. Ini salah. Yang benar adalah setelah tiga hari sebagaimana termaktub dalam hadis.
Taurat menyatakan bahwa Allah menumbuhkan sebuah pohon labu bagi Yunus dan bahwa pohon itu mengering hingga dia bersedih. Lalu Allah membuat perumpamaan dengannya; dia bersedih atas matinya sebuah pohon, tetapi tidak bersedih atas  sebuah umat yang jumlahnya melebihi seratus ribu orang. Ini benar. Akan tetapi tidaklah benar bahwa Allah menumbuhkan pohon labu untuknya setelah dia memperingatkan kaumnya. Dan apa yang secara jelas dinyatakan oleh hadis dan oleh Al-Qur'an secara tersurat bahwa semua itu terjadi setelah Yunus dimuntahkan dari dalam perut ikan.
Di dalam Taurat tidak terdapat banyak perincian seperti termaktub di dalam Al-Qur'an dan hadis. Taurat tidak menyinggung sebab-sebab yang membuat Yunus pergi dari kotanya, yaitu karena takut dibunuh dikarenakan adzab yang dijanjikannya tidak kunjung turun. Taurat tidak menyinggung bahwa Yunus dimuntahkan oleh ikan besar dalam keadaan sakit seperti  anak burung tanpa bulu. Taurat juga tidak berbicara tentang seorang anak muda dengan perincian-perinciannya.
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
1.      Hendaknya seorang mukmin teguh di atas perintah Allah dan sabar atas hukum-Nya. Dia tidak sepantasnya terburu-buru dalam urusan di mana Allah mempunyai urusan di dalamnya.
2.      Dampak taubat dan iman dalam mengangkat kemarahan Allah, murka dan adzab-Nya sebagaimana yang terjadi pada kaum Yunus, bahwa Allah mengangkat adzab mereka ketika mereka beriman.
3.      Kadangkala Allah menguji hamba-hamba-Nya yang shalih jika mereka melakukan penyimpangan terhadap perintah Allah, sebagaimana Dia menguji Yunus. Tetapi Dia menyelamatkan mereka dengan iman, kebaikan, dan doa mereka, sebagaimana Yunus selamat dari perut ikan.
4.      Dampak doa dan pengakuan terhadap kesalahan dalam menyelematkan diri dari kesulitan. Allah menyelamatkan Yunus karena doa dan tasbihnya. "Maka kalau sekiranya Dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Ash-shaffat: 143-144).
5.      Hadis ini menunjukkan kodrat besar Allah. Dia menghentikan perahu hingga tidak berjalan, padahal perahu-perahu yang ada di kanan kirinya hilir mudik. Dia menahan ikan hingga tidak mematikan Yunus berada di dalam perutnya. Dia memerintahkannya untuk memuntahkannya di pantai. Dia membuat Yunus mendengar tasbih batu-batu di dasar laut. Dia membuat pohon dan batu bisa berbicara untuk memberikan kesaksian kepada anak muda.
6.      Allah mengangkat anak muda penggembala kambing sebagai raja. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Anak muda itu memperbaiki kaumnya selama empat puluh tahun, masa yang panjang.
7.      Cepatnya perubahan yang terjadi pada kaum Yunus. Keadaan mereka menjadi baik dan urusan mereka menjadi lurus.  Ini dibuktikan dengan turunnya raja mereka dari tahtanya dan menyerahkannya kepada anak muda penggembala yang bertemu Yunus. Dia menyampaikan salam Yunus kepada kaumnya, serta pohon dan daratan berarti untuknya.
8.      Beratnya dosa dusta. Pada masa umat terdahulu dusta termasuk dosa  besar dan pelakunya berhak dibunuh.
9.      Pada masa selain kaum Yunus terdapat orang-orang yang baik. Para penumpang perahu menolak melemparkan Yunus walaupun Yunus selalu menang undian tiga kali, sehingga  Yunuslah yang menceburkan diri.
10.  Kesalahan yang dilakukan oleh Yunus tidak menodai kedudukannya dan tidak menurunkan kemuliaannya. Dia termasuk nabi dan rasul Allah di mana Dia memilih, mengangkat, dan mengunggulkan mereka. Rasul kita telah memperingatkan agar jangan ada orang yang mengklaim atau berkata, "Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta," hanya karena  Yunus melakukan kesalahannya. Di dalam Shahih Bukhari Nabi bersabda, "Janganlah kamu berkata, 'Sesungguhnya aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.'" Dalam riwayat lain, "Tidak sepantasnya seorang hamba berkata, 'Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.'" (Lihatlah hadis-hadis yang melarang hal ini dalam Shahih  Bukhari, 6/450 no. 342, 3416).
11.  Keutamaan doa Dzin Nun. Doanya menjadi doa yang dilontarkan oleh orang-orang yang tertimpa kesulitan, orang-orang yang mendapat kesedihan, dan orang-orang yang dikepung oleh kesusahan dan kesengsaraan. "Tiada Tuhan yang berhak disembah  kecuali Engkau Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim." (Al-Anbiya: 87).
12.  Boleh naik perahu, sebagaimana Yunus melakukannya.
13.  Sejauh mana kesulitan para rasul dalam berdakwah kepada Allah dan menghadapi kaum mereka, serta sejauh mana ujian  Allah dan cobaan-Nya kepada mereka.
14.  Ketaatan para makhluk kepada Allah. Ikan besar menelan Yunus sebagaimana yang Dia perintahkan dan ia tidak membunuhnya. Begitu Allah memintanya agar memuntahkan, maka ia melakukannya. Ikan-ikan besar dan ikan-ikan lainnya serta batu lautan, semuanya bertasbih kepada Allah dan Yunus mendengar tasbihnya.
15.  Koreksi Al-Qur'an dan hadis terhadap berita-berita yang diselewengkan  oleh Bani Israil.
16.  Rasulullah menyebutkan sifat Nabi Yunus pada waktu beliau menunaikan ibadah haji. Sebuah hadis riwayat Muslim dalam Shahihnya, bahwa Rasulullah mendatangi sebuah jalan di gunung Harsya (gunung dekat Juhfah) dan beliau bersabda, "Seolah-olah diriku melihat Yunus bin Matta di atas unta merah yang gemuk  dengan berjubah wol, tali kekang untanya dari sabut, dan dia sedang bertalbiyah." (Shahih Muslim, 1/251, no. 166; Musnad Ahmad, 3/352, no. 1854, cetakan Ar-Risalah).
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 148-168. 

Kisah Samiri Pembuat Anak Sapi . pardiro asslemani

 Kisah Samiri Pembuat Anak Sapi


Pengantar
Hadis di bawah ini mengandung tambahan dan perincian terkait dengan penyembahan Bani Israil terhadap anak lembu yang terbuat dari emas ciptaan Samiri dan apa yang dilakukan oleh Musa terhadap anak sapi tersebut, bagaimana dia menenggelamkannya di air dan bagaimana Bani Israil saling membunuh. 
Teks Hadis
Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak dari Ali berkata, “Ketika Musa bersegera kepada Tuhannya, Samiri mengumpukan perhiasan semampunya; perhiasan Bani Israil. Dia mencetaknya menjadi anak sapi, kemudian dia memasukkan segenggam (dari jejak rasul) ke dalam perutnya. Ternyata ia menjadi anak sapi yang bersuara. Maka Samiri berkata kepada mereka, ‘Ini adalah Tuhan kalian dan Tuhan Musa.’ Harun berkata kepada mereka, ‘Wahai kaum, bukankah Tuhan kalian telah memberi janji baik kepada kalian?’ Ketika Musa kembali kepada Bani Israil yang telah disesatkan oleh Samiri, Musa memegang kepala saudaranya, maka Harun berkata apa yang dikatakan Musa kepada Samiri, ‘Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Samiri menjawab, ‘Aku mengambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya. Demikianlah nafsuku membujukku.’
Lalu Musa mendatangi anak sapi itu. Dia meletakkan serutan dan menyerutnya di tepi sungai. Maka tidak seorang pun yang minum dari air itu yang menyembah anak sapi kecuali wajahnya menguning seperti emas. Mereka berkata kepada Musa, ‘Bagaimana taubat kami?’ Musa menjawab, ‘Sebagian dari kalian membunuh sebagian yang lain.’ Lalu mereka mengambil pisau. Maka mulailah seorang membunuh bapaknya dan saudaranya tanpa peduli, hingga yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa, “Perintahkan mereka agar berhenti. Aku telah mengampuni yang terbunuh dan memaafkan yang hidup.”
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
  1. Keterangan tentang cara Musa menenggelamkan anak sapi yang disembah oleh Bani Israil, yaitu diserut dengan serutan dan hasilnya yang seperti tepung itu ditebar ke sungai.
  2. Keterangan tentang cara Bani Israil saling membunuh. Mereka yang saling membunuh itu adalah orang-orang yang menyembah sapi, bukan orang-orang yang tidak menyembahnya. Orang-orang yang menyembahnya memiliki tanda, yaitu berubahnya kulit wajah mereka menjadi warna kuning emas setelah mereka minum air sungai di mana serutan anak sapi dilempar di dalamnya.
  3. Kemuliaan umat ini dihadapan Allah dengan diterimanya taubat mereka tanpa harus saling membunuh kecuali dalam beberapa perkara, seperti merajam orang berzina yang terbukti zinanya dan membununuh orang murtad yang bersikeras mempertahankan kemurtadannya.
  4. Banyaknya jumlah Bani Israil pada zaman Musa. Orang yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu orang.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 134-137. 

Bantahan Adam kepada Musa .pardiroasslemany

Bantahan Adam kepada Musa

Pengantar
Kisah ini hanya bisa diketahui melalui wahyu, karena ia berbicara tentang pertemuan yang tidak disaksikan oleh manusia. Pertemuan Adam dengan Musa. Pertemuan ini terwujud atas dasar permintaan dari Musa. Kita tidak tahu bagaimana hal ini terwujud, akan tetapi kita yakin bahwa ia terjadi karena berita Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pastilah benar.
Pertemuan seperti ini terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam manakala beliau bertemu dengan para nabi dan rasul di malam isra' dan beliau shalat berjamaah dengan mereka sebagai imam di masjid Al-Aqsa. Pada saat mi'raj  ke langit beliau  berbincang dengan sebagian dari mereka.
Tujuan Musa dengan pertemuan itu adalah untuk  berbincang-bincang langsung dengan Adam dan menyalahkannya karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga lantaran dosa yang dilakukannya. Akan tetapi pada saaat itu Adam mengemukakan alasan yang membuat Musa terdiam. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengakui bahwa Adam telah mengalahkan argumen Musa Alahis Salam. 
Teks Hadis 
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Adam dan Musa berdebat di sisi Tuhan keduanya. Maka Adam mengalahkan argumen Musa. Musa berkata, 'Kamu adalah Adam yang diciptakan oleh Allah dengan Tangan-Nya. Dia meniupkan ruh-Nya kepadamu. Dia memerintahkan malaikat sujud kepadamu, dan Dia mengizinkanmu tinggal di surga-Nya. Kemudian gara-gara kesalahanmu, kamu menjadikan manusia diturunkan ke bumi.'
Adam menjawab, 'Kamu adalah Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberimu lauh(kepingan kayu atau batu; pent) yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia telah mendekatkanmu kepada-Nya sewaktu kamu bermunajat kepada-Nya. Berapa lama kamu mendapatkan Allah telah  menulis Taurat sebelum aku diciptakan?' Musa menjawab, '40 tahun.'
Adam bertanya, 'Apakah di sana tertulis, 'Dan durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah dia.(Thaha: 121)?' Musa menjawab, 'Ya.' Adam berkata, 'Apakah kamu  menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah atasku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?'" Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Adam mengungguli argumen Musa."
Riwayat di atas adalah riwayat Muslim.
Dalam riwayat Bukhari, "Adam dan Musa saling beradu argumen. Musa berkata kepada Adam, 'Kamu Adam yang dikeluarkan dari surga karena kesalahanmu.' Adam menjawab, 'Kamu Musa yang telah dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya, kemudian kamu menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan."' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Maka Adam mengalahkan dalil Musa." Ini diucapkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebanyak dua kali.
Dalam riwayat Bukhari juga, "Adam dan Musa saling berdebat. Musa berkata, 'Ya Adam, kamu sebagai bapak kami telah mengecewakan kami. Kamu membuat kami dikeluarkan dari surga.' Adam menjawab, 'Ya Musa, Allah telah mengangkatmu dengan Kalam-Nya dan Dia menuliskan untukmu dengan Tangan-Nya, apakah kamu menyalahkanku hanya karena perkara yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum Dia menciptanku?' Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Maka Adam mengungguli Musa." Tiga kali. 
Takhrij Hadis 
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah dalam Kitab Ahadisil Anbiya',  bab Wafat Musa, 6/440, no. 3407; dalam Kitab Tafsir, bab 'Dan Aku memilihmu untuk diri-Ku' (Thaha:41), 8/434, no. 4736; dalam Kitabul Qadar, bab dialog Adam dengan Musa, 11/505, no. 6614; di Kitabut Tauhid, bab keterangan tentang firman Allah, "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisaa: 164).
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Qadar bab debat antara Adam dan Musa, 4/2042, no. 2652. 
Penjelasan Hadis 
Kehidupan dunia adalah kelelahan dan kepayahan. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (Al-Balad: 4). Kelelahan ini telihat dalam segala urusan. Siapa yang dimakan oleh seseorang tidak diperoleh kecuali dengan kelelahan. Seteguk minum juga demikian. Bahkan pakaian dan tempat tinggal. Lebih dari semua itu, penyakit-penyakit yang menimpa manusia, musuh-musuh dan kawan-kawannya mendatangkan problem baginya. Gangguan pun bisa datang dari anak-anak darn kerabatnya.
Musa telah merasakan apa yang dirasakannya dari Fir'aun dan bala tentaranya. Dia kabur dari Mesir ke Madyan setelah membunuh laki-laki Qibti. Di Madyan, Musa menggembala kambing selama sepuluh tahun atau delapan tahun. Dan setelah Allah mengangkatnya menjadi Rasul, Musa menghadapi Fir'aun. Musa menghadapi kebengalan dan kenakalan  Bani Israel. Mungkin pada suatu waktu terbetik di pikiran Musa bahwa penyebab kelelahan ini adalah Adam, yang telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga. Pada masa itu Allah telah meminta Adam agar tinggal di surga setelah menciptakannya. Allah mengizinkan buah-buahnya dan sungai-sungainya kecuali satu pohon. Allah menjamin kepada Adam tidak akan lapar dan telanjang, dia juga tidak akan haus dan tidak terkena sengatan matahari.
Manakala Adam durhaka kepada Tuhannya dengan memakan pohon terlarang, maka Allah menurunkannya dari rumah kekekalan ke rumah kelelahan, dan manusia tidak mungkin hidup kecuali dengan perjuangan yang berat.
Oleh karena itu, ketika Musa bertemu dengan bapaknya, Adam dia mencelanya atas perbuatannya yang membuat dirinya dan anak cucunya keluar dari surga. Dalam perbincangan tersebut Musa mengingatkan Adam akan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, di mana Allah menciptakannya dengan Tangan-Nya, sementara makhluk yang lain diciptkan dengan kata "Kun." Allah meniupkan ruh-Nya padanya, menyuruh para malaikat bersujud kepadanya, mengizinkannya tinggal di surga; dan barang siapa diberi kemuliaan itu oleh Allah, maka tidak sepantasnya ia tidak mendurhakai-Nya sehingga tidak menurunkan dirinya dan anak cucunya dari surga.
Adam merespon celaan Musa dengan celaan juga. Adam membantah ucapan Musa. Dia mengingkari Musa, bagaimana sikap menyalahkan ini bisa keluar dari orang seperti Musa, Adam menyebutkan keutamaan Musa yang diberikan Allah kepadanya. Adam berkata kepada Musa, "Kamu Musa yang telah diangkat oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberi lauh yang berisi  penjelasan tentang segala sesuatu. Dia mendekatkanmu kepada-Nya ketika kamu bermunajat. Berapa lama kamu mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?" Musa menjawab, "Empat puluh tahun."
Adam bertanya, "Apakah kamu mendapati, 'Dan Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia sesat.' (Thaha: 121). "Musa menjawab, 'Ya.'
Adam berkata, "Apakah kamu menyalahkanku karena satu perbautan yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan?"
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyatakan bahwa Adam mengungguli ucapan Musa. Mungkin ada yang bertanya, "Bagaimana bisa itu?" Bagaimana Adam unggul dalam argumennya?"
Jawabannya adalah bahwa Musa menyalahkan Adam karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga. Maka Adam menjawabnya, "Saya tidak mengeluarkan kalian dari surga, akan tetapi Allahlah yang menjadikan keluarnya diriku karena aku memakan pohon." Maka pengeluarkan Adam bukan sesuatu yang lazim jika ia tidak diinginkah oleh Allah Tabaraka Wa Taala, karena mungkin saja Allah mengampuninya tanpa mengeluarkannya dari surga dan mungkin juga Allah menghukum Adam dengan hukuman lain, bukan dengan mengeluarkannya dari surga, akan tetapi hikmah-Nya menuntut mengeluarkan Adam dari surga karena kebaikan yang banyak dan besar yagn diketahui oleh-Nya. Oleh karena itu, Adam mencela Musa atas celaannya kepadanya karena satu perkara yang telah dikehendaki dan ditakdirkan oleh Allah dan hal itu itu sendiri bukan sesuatu yang lazim dari perbautan Adam.
Hadis ini membantah para pendusta takdir, karena hadis ini menetapkan takdir terdahulu dan dalil-dalil yang menetapkan takdir adalah dalil-dalil yang ketetapannya pasti dan dalalahnya juga pasti, maka tidak ada peluang untuk mendustakan dan mengingkari takdir. Barang siapa mendustakannya maka dia tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya.
Hadis ini dicatut oleh kelompok jabbaraiyah di mana –kata mereka- hamba adalah orang yang terpaksa dalam perbautan-nya. Padahal, hadis ini tidak menunjukkan itu. Adam tidak membantah Musa dengan cara ini. Dan masalahnya adalah seperti yang telah aku jelaskan dan aku tetapkan. Wallahu A'lam. 
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis 
1.      Dialog antara orang-orang yang shalih dalam masalah yang musykil, seperti Ada yang berdialog dengan Musa. Dan diwajibkan atas peserta dialog untuk tunduk kepada kebenaran jika ia telah jelas setelah sebelumnya samar, seperti Musa yang tunduk pada hujjah Adam.
2.      Kewajiban beriman kepada ghaib yang benar. Allah telah memuji orang-orang mukmin bahwa mereka beriman kepada yang ghaib. Di antara perkara ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah percakapan yang terjadi antara Adam dan Musa. Adapun perkara ghaib yang diklaim oleh sebagian orang tanpa berpijak kepada dalil yan benar, maka hal itu termasuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu.
3.      Pelaku dialog hendaknya mengenal kelebihan lawan dialog. Adam dan Musa masing-masing menyebutkan keunggulan lawannya dan kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya.
4.      Hadis ini menetapkan takdir yang mendahului. Banyak sekali dalil-dalil dalam hal ini. Hadis ini membantah qadariyah yang menafikan takdir yang mendahului, termasuk kelompok mu'tazilah.
5.       Keterangan tentang keutamaan khusus yang dimiliki oleh Adam. Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, mengizinkannya tinggal di surga-Nya. Sementara keistimewaan Musa bahwa Allah mengangkatnya dengan risalah dan kalam-Nya. Dia memberinya lauh yang mengandung penjelasan tentang segala sesuatu, dan Dia mendekatkannya ketika dia  bermunajat kepada-Nya. Keistimewaan-keistimewaan ini dimiliki oleh keduanya. Sebagian telah disebutkan secara nyata di dalam Al-Qur'an dan sebagian lain ditunjukkan oleh hadist-hadis lain seperti hadis ini.
6.      Penetapan sifat Tangan bagi Allah. Sifat ini tidak boleh dinafikan dan tidak boleh didustakan, sebagaimana tidak boleh menyamakan Tangan Allah dengan tangan para makhluk, berpijak pada firman Allah, "Tidak sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura:11).
7.      Keterangan tentang sebagian ilmu di dalam Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan bahwa dalam Taurat terdapat, "Dan Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia pun sesat." Ayat ini terdapat di Al-Qur'an sebagaimana di dalam Taurat yang Allah turunkan. Tetapi dalam Taurat sekarang, hal itu sudah tidak ada.
8.      Hadis ini mengandung hakekat ilmiah yang ghaib, bahwa Allah menulis Taurat empat puluh tahun sebelum diciptakan.
9.      Hadis ini menetapkan bahwa Allah menulis Taurat  dengan Tangan-Nya. Ini termasuk keistimewan taurat sebagai keutamaan Musa.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 91-97. 

Kisah Musa dan Khidhir


Kisah Musa dan Khidhir

Pengantar
 
Kisah Musa dengan Khidhir  yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi termasuk kisah yang utama. Musa pergi dari kotanya untuk mencari ilmu ketika Tuhannya memberitahukan kepadanya bahwa di bumi ini terdapat seseorang yang lebih alim(pandai) darinya. Dalam sunah nabi terdapat tambahan keterangan dari apa yang disebutkan oleh Al-Qur'an. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita sebab perginya Musa dari kotanya, sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita tentang  nama hamba shalih yang dicari-cari Musa, dan sebagian dari ucapannya dan keadaannya. 
Teks Hadis
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia bercerita, "Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dan sahabat Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, "Musuh Allah itu telah berdusta." Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya, 'Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?' Ia menjawab, 'Aku.' Maka Allah mencelanya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.' Musa berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?' Dia berfirman, 'Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.'
Maka Musa mengambil seekor ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Lalu dia pergi bersama seorang pemuda bernama Yusya' bin Nun. Ketika keduanya mendatangi batu karang, keduanya merebahkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu menggelepar di dalam keranjang, hingga keluar darinya dan jatuh ke laut. "Kemudian ika itu mengambil jalannya ke laut." (Al-Kahfi: 61). Allah Subhanahu wa Ta'ala menahan jalannya air dari ikan itu, maka jadilah air itu seperti lingkaran. Kemudian sahabat Musa (Yusya') terbangun dan lupa memberitahukan kepada Musa tentang ikan itu. Mereka terus menempuh perjalanan siang dan malam. Pada keesokan harinya Musa berkata kepada pemuda itu, "Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."' (Al-Kahfi: 62). Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyebutkan bahwa Musa tidak merasa kelelahan sehingga ia berhasil mencapai tempat yang ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka sahabatnya itu berkata, "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." (Al-Kahfi: 63). Beliau berkata, "Ikan itu memperoleh jalan keluar, tetapi bagi Musa dan sahabatnya, yang demikian itu merupakan kejadian yang luar biasa." Maka Musa berkata kepadanya, "Itulah (tempat) yang kita cari.' lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula." (Al-Kahfi: 64).
Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menceritakan, "Kemudian mereka berdua kembali lagi mengikuti jejak mereka semula hingga akhirnya sampai ke batu karang. Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang mengenakan pakaian rapi. Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir pun berkata, 'Sesungguhnya aku mendapatkan kedamaian di negerimu ini.' 'Aku Musa,' paparnya. Khidhir bertanya, 'Musa pemimpin Bani Israil?' Musa menjawab, 'Ya.' Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkan kepadaku apa yang engkau ketahui. Khidhir menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.' (Al-Kahfi: 67). Hai Musa aku mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak kumiliki. "Maka Musa berkata, ' Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.'" (Al-Kahfi: 69). Maka Khidhir berkata Musa, "Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (Al-Kahfi: 70).
Maka berjalanlah keduanya. Mereka berjalan menelusuri pantai, hingga akhirnya sebuah perahu melintasi keduanya. Lalu keduanya meminta agar pemiliknya mau mengantarnya. Mereka mengetahui bahwa orang itu adalah Khidhir. Mereka pun membawa keduanya tanpa upah. Ketika keduanya  menaiki perahu itu, Musa merasa terkejut karena Khidhir melubangi perahu tersebut dengan kapak. Musa pun berkata, "Orang-orang itu telah membawa kita tanpa upah, tetapi engkau malah melubangi perahu mereka, "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar." (Al-Kahfi: 71).
"Dia (Khidhr) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.'" (Al-Kahfi: 72).
"Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.'" (Al-Kahfi: 73).
Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Yang pertama itu dilakukan Musa karena lupa. Lalu ada burung hinggap di tepi perahu dan minum sekali atau dua kali patokan ke laut. Maka Khidhir berkata kepada Musa, 'Jika ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, maka ilmu kita itu tidak lain hanyalah seperti air yang diambil oleh burung itu dengan paruhnya dari laut.'
Setelah itu keduanya keluar dari perahu. Ketika keduanya sedang berjalan di tepi laut, Khidhir melihat seorang anak yang tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Maka Khidhir menjambak rambut anak itu dengan tangannya dan membunuhnya. Musa berkata kepada Khidhir, 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.' Khidhr berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?' (Al-Kahfi: 74-75). Yang kedua ini lebih parah dari yang pertama.
Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.' (Al-Kahfi: 76).
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' (Al-Kahfi: 77).-yakni, miring. Lalu Khidhir berkata dan, 'Khidhir menegakkan dinding itu,' dengan tangannya. Selanjutnya Musa berkata, 'Kita telah mendatangi suatu kaum tetapi mereka tidak mau menjamu kita dan tidak pula menyambut kita, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' (Al-Kahfi: 77). Khidhr berkata, 'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.'" (Al-Kahfi: 78).
Kemudian Rasulullah bersabda, "Kami ingin Musa bisa bersabar sehingga Allah menceritakan kepada kita tentang keduanya."
Said bin Jubair menceritakan, Ibnu Abbas membaca, "Dan di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang baik dengan cara yang tidak benar." (Al-Kahfi: 79). Ia juga membaca seperti ini, "Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah  mukmin." (Al-Kahfi: 80).
Dalam riwayat lain dalam Shahihain dari Said bin Jubair berkata, "Kami sedang bersama Ibnu Abbas di rumahnya. Dia berkata, 'Bertanyalah kalian kepadaku.' Aku berkata, 'Wahai  Ibnu Abbas, semoga Allah menjadikanku sebagai penggantimu. Di kufah terdapat seorang tukang cerita yang bernama Nauf. Dia mengklaim bahwa dia bukan Musa Bani Israil. Adapun Amru, dia berkata kepadaku, 'Musuh Allah telah berdusta.' Adapun Ya'la, dia berkata kepadaku, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Musa Alaihi Salam suatu hari dia menasehati kaumnya sampai ketika air mata bercucuran dan hati menjadi lunak, dia pulang. Seseorang laki-laki menyusulnya, dia berkata Musa, 'Wahai Rasulullah, apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?' Musa menjawab, 'Tidak ada.' Maka Allah menyalahkan Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Dikatakan kepada  Musa, 'Ada yang lebih alim darimu.' Musa bertanya, 'Ya Tuhanku, di mana?' Allah menjawab, 'Di tempat bertemunya dua laut.'
Musa berkata, 'Ya Tuhanku, jadikanlah untukku sebuah tanda yang bisa aku kenal."' Amru berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, "Di tempat di mana ikan meninggalkanmu." Ya'la berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, "Ambillah ikan yang telah mati yang bisa ditiupkan ruh kepadanya." Maka Musa membawa ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Musa berkata kepada pelayannya, "Aku tidak membebanimu apa pun kecuali kamu harus memberitahuku jika ikan itu lepas darimu." Pelayan menjawab, "Bukan beban berat." Itulah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya." (Al-Kahfi: 60). Dan murid tersebut adalah Yusya' bin Nun. Riwayat ini bukan dari Said.
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meneruskan, "Manakala Musa berteduh di bawah batu besar di tempat Tsaryan (yang basah), tiba-tiba ikan itu berontak, sementara Musa sedang tidur. Maka muridnya berkata, 'Aku tidak akan membangunkannya.' Tetapi ketika  Musa bangun, dia lupa memberitahukan kepadanya. Ikan itu berontak hingga melompat ke laut. Allah menahan jalannya air dari ikan itu sehingga bekasnya seolah-olah di batu." Amru berkata kepadaku bahwa bekasnya seolah-olah di batu. Amru melingkarkan antara kedua ibu jarinya dan kedua telunjuknya.
"Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Dia berkata, "Allah telah  menghentikan keletihan darimu." Riwayat ini bukan dari Said. Yusya' memberitahu Musa, lalu keduanya pun kembali dan menemukan Khidhir. Usman bin Abu Sulaiman berkata kepadaku, "Khidhir duduk di atas permadani hijau di tengah laut." Said bin Jubair berkata, "Berselimut kain, salah satu ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya." Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir membuka wajahnya dan berkata, "Apakah di negerimu ada keselamatan? Siap kamu?" Musa menjawab, "Aku adalah Musa." Khidhir bertanya, "Musa Bani Israil?" Musa menjawab, "Ya." Khidhir bertanya, "Apa keperluanmu?" Musa menjawab, "Aku datang agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." Khidhir berkata, "Apakah kamu belum merasa cukup? Taurat ada di tanganmu dan wahyu datang kepadamu. Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak sepatutnya kamu ketahui, dan sesungguhnya kamu memiliki ilmu yang tidak sepatutnya aku ketahui." Lalu datanglah seekor burung yang mengambil air laut dengan paruhnya. Khidhir berkata, "Demi Allah, ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti apa yang diambil burung itu dari laut dengan paruhnya."
Ketika keduanya naik perahu dan mendapati perahu-perahu kecil yang menyeberangkan penghuni pantai ini ke pantai itu, mereka mengenalnya. Mereka berkata, "Hamba Allah yang shalih." Dia berkata, "Kami bertanya kepada Said, 'Khidhir?' Dia menjawab, 'Ya.' Mereka berkata, 'Kami tidak meminta ongkos.' Maka Khidhir melubanginya dan menancapkan patok kepadanya."
Musa berkata, "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang berakibat para penumpangnya akan tenggelam. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan kesalahan yang besar." (Al-Kahfi: 71). Mujahid berkata, "Kemunkaran." "Khidhir berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.'" (Al-Kahfi: 72). Yang pertama dilakukan oleh Musa karena lupa, yang kedua karena syarat, dan yang ketiga adalah kesengajaan." Musa berkata, "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku."  (Al-Kahfi: 73).
Keduanya bertemu dengan seorang anak, lalu Khidhir membunuhnya. Ya'la berkata, Said berkata, "Dia mendapatkan beberapa anak sedang bermain, maka Khidhir mengambil seorang anak yang kafir dan tampan, lalu dia membaringkannya dan menyembelihnya dengan pisau." "Musa berkata, 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?" (Al-Kahfi: 74).
Dia belum melakukan ingkar sumpah. Dan Ibnu Abbas membaca zakiyah dengan zaakiyah yang muslim, seperti membaca ghulaman zakiyyan.
"Lalu keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu." (Al-Kahfi: 77). Said memberi isyarat dengan tangannya begini, dia mengangkat tangannya hingga lurus.
Ya'la berkata, "Menurutku Said berkata, 'Maka dia mengusapnya dengan tangannya dan ia pun lurus." "Musa berkata, 'Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.'" (Al-Kahfi: 78).
"Karena di hadapan mereka." (Al-Kahfi: 79), yakni di depan mereka. Ibnu Abbas membacanya, amaamahum malak.  Mereka mengklaim bukan dari Said, bahwa dia adalah Hudad bin Budad, dan anak yang dibunuh –menurut mereka- bernama Jaisur.
"Ada seorang raja yang merampas setiap perahu." (Al-Kahfi: 79). Maka aku ingin jika ia melewatinya, dia tidak mengambilnya karena cacatnya. Jika mereka telah lewat, maka mereka bisa memperbaiki dan memanfaatkannya. Di kalangan mereka ada yang bilang, "Sumpahlah dengan botol." Ada yang bilang dengan aspal.
"Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang mukmin." (Al-Kahfi: 80), dan anak itu adalah kafir.
"Dan kami khawatir dia akan mendorong kedua orang tunya kepada kesesatan dan kekufuran." (Al-Kahfi: 80). Yakni, kecintaan kedua orang tuanya kepadanya membuat keduanya mengikutinya dalam agamanya.
"Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anak itu."  (Al-Kahfi: 81). Ini sebagai jawaban atas ucapannya, "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih."  (Al-Kahfi: 74).
"Dan lebih berkasih sayang kepada kedua orang tuanya." (Al-Kahfi: 81). Keduanya lebih sayang kepadanya daripada kepada anak pertama yang dibunuh Khidhir. Selain Said mengklaim bahwa keduanya diberi pengganti anak perempuan. Adapun Dawud bin Ashim, dia berkata dari beberapa orang bahwa penggantinya adalah anak perempuan.
Dalam riwayat ketiga, dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud dari Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas berdebat dengan Al-Hur bin Qais bin Hish Al-Fazari tentang shahib Musa. Ubay bin Ka'ab melewati keduanya, lalu Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata, "Aku dan temanku ini berdebat tentang shahib Musa, di mana Musa bertanya tentang jalan untuk bertemu dengannya. Apakah kamu mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyinggungnya?"
Ubay menjawab, "Ya, aku telah mendengar Nabi menyinggungnya. Beliau bersabda, "Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh seroang laki-laki. Dia berkata, 'Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu darimu?' Musa menjawab, 'Tidak.' Maka Allah mewahyukan kepada Musa. 'Ada, yaitu hamba Kami bernama Khidhir.' Maka Musa bertanya bagaimana menemuinya. Allah memberinya satu tanda, yaitu seekor ikan. Dikatakan kepada Musa, 'Jika kamu kehilangan ikan, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.' Musa pun menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkata kepadanya, 'Tahukah kami ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). "Musa menjawab, 'Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula.' (Al-Kahfi: 64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah diberitakan Allah dalam Kitab-Nya."
Ketiga hadis di atas adalah riwayat Bukhari. 
Takhrij Hadis 
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul Ilmi dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Kaab, keterangan tentang perginya Musa ke laut kepada Khidhir , 1/168, no. 74.
Diriwatyatkan dalam bab pergi untuk mencari ilmu, 1/174, no. 78; dalam bab apa yang dianjurkan kepada seseorang alim jika dia ditanya siapa manusia paling alim, maka hendaknya dia menyerahkan ilmunya kepada Allah, 1/217, no. 122.
Diriwayatkan dalam Kitabul Ijarah, bab jika menyewa seorang pegawai untuk meluruskan tembok, 4/445, no. 2267.
Dalam Kitabusy Syuruth, bab syarat syarat kepada orang dengan ucapan, 5/326, no. 2276.
Dalam Kitab Bad'il Khalqi, bab sifat iblis dan bala tentaranya 6/326, no. 3278. Dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab Hadis Khidhir dengan Musa, 6/431, no. 3400, 3401.
Dalam kitab Tafsir bab 'Ketika Musa berkata kepada muridnya ' (Al-Kahfi: 60), 8/409, no. 4725. Dalam bab Ketika keduanya sampai di pertemuan antara dua laut. (Al-Kahfi: 61), 8/422, no. 4726. Dlaam  bab, Dia berkata, 'Tahukan kamu ketika kita berteduh di batu itu.' ( Al-Kahfi: 63), 8/422, no. 4727.
Diriwayatkan dalam Kitabul Aiman wan Nudzur, bab jika menyalahi sumpah karena lupa, 11/550, no. 6672.
Dalam Kitabut Tauhid, bab Masyi'ah dan Iradah, 13/448, no. 448.
DIriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-Nya dari Ibnu Abbas dalam Kitabul Fadhail, bab di antara keutamaan Khidhir, 4/1847, no. 2380.
LIhat Syarah Shahih Muslim An-Nawawiyah, 5/518.
Penjelasan Hadis
 
Suatu hari Musa berpidato di hadapan Bani Israil. Musa menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecutkan jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai banyak ilmu.
Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah nabi-nabi Allah. Setelah Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Musa, "Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?" Musa menjawab, "Tidak."
Musa adalah salah seroang rasul yang agung. Dia termasuk ulul azmi. Musa menempati urutan ke tiga di antara para nabi dan rasul. Ibrahim berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan pertama. Musa adalah kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, betapun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawakal kepada Allah. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, "Wallahu A'lam." Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah.
Allah mencela Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Dia mewahyukan kepadanya, "Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki." Manakala Musa menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya.
Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah  memerintahkan Musa supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah menghidupkan ikan itu. Musa berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut. Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Musa berbaring di balik batu untuk beristirahat dari letihnya perjalanan. Di sinilah ikan itu bergerak-gerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah menahan laju air dari ikan tersebut.
Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Musa karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan. Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Musa meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Ikan itu telah melompat pada saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya  melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan.
Musa dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Musa berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas.
Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.
Musa langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum." Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh  mendengar  salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di bumiku?" Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.
Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Musa kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?"
Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang  berbeda yang Allah khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku."
Musa meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, "Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku." Musa pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Musa agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan menerangkannya.
Musa dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberang secara gratis.
Musa dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Musa, "Demi Allahlah ilmuku dan ilmumu hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut."
Ketika keduanya berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari. Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat seuatu kesalahan besar."  (Al-Kahfi: 71).  Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.'" (Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Musa yang pertama ini dikarenakan dia lupa sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah.
Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar." (Al-Kahfi: 74).
Pengingkaran Musa dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku." (Al-Kahfi: 75).  
Di sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Musa. Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya.
Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Musa dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.
Di sini Musa memilih  berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.
Seandainya Musa bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi. 
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
1.      Dialog dan berbincang dalam urusan ilmu. Ibnu Abbas berbeda pendapat dengan Hur bin Qais tentang nama laki-laki yang dituju oleh Musa. Apakah dia Khidhir atau bukan, dan keduanya mencari ilmu kepada orang yang memiliki ilmu. Maka Ubay bin Kaab meriwayatkan untuk keduanya dari Rasulullah tentang hadis tersebut yang menunjukkan kebenaran pendapat Ibnu Abbas.
2.      Seorang alim harus menyebarkan ilmunya di antara umat manusia. Terlebih jika ilmu itu merupakan kata putus dalam urusan yang diperselisihkan oleh manusia. Ubay bin Kaab meriwayatkan hadis  kepada Ibnu Abbas dan Hur bin Qais di mana hadis itu menjadi hakim dalam urusan yang mereka perselisihkan. Dan Ibnu Abbas meriwayatkan hadis ini kepada teman-temannya sebagai bantahan kepada Nauf Al-Bakali yang mengklaim bahwa sahib Khidhir bukanlah Musa Bani Israil.
3.      Para ulama perwaris para nabi  harus mengambil petunjuk para nabi dengan mengingatkan manusia kepada Tuhan mereka, membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka demi mensucikan jiwa mereka, melunakkan hati mereka hingga menjadi dekat kepada Tuhan mereka, seperti yang dilakukan oleh Musa dalam nasihatnya.
4.      Keutamaan bepergian mencari ilmu. Musa pergi mencari orang yang lebih alim darinya. Keutamaan dan kedudukannya tidak menghalanginya untuk mengikuti orang yang diharapkan  bisa menularkan ilmu kepadanya.
5.      Anjuran melayani ahli ilmu dan kebaikan. Yusya' melayani Musa. Anas bin Malik melayani Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.
6.      Boleh menyampaikan keletihan dan kelelahan berdasarkan ucapan Musa, "Sungguh, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62).  Sama dengan hal ini adalah ketika seseorang memberitakan sakit yang dirasakannya, dengan catatan: pemberitaan itu tidak sampai pada tingkat kemarahan terhadap takdir.
7.      Khidhir hanya mengetahui perkara ghaib yang Allah sampaikan kepadanya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui nama Musa sebelum dia menanyakannya. Khidhir juga tidak mengetahui maksud kedatangan Musa.
8.      Kemampuan Allah menghidupkan yang mati. Dengan kodrat-Nya Dia menghidupkan ikan  yang mati dan asin. Dan perjalanan ikan di laut mengandung tanda kekuasaan Allah yang lain, "Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut." (Al-Kahfi: 61).
9.      Berlemah lembut kepada pengikut dan pembantu. Pemuda yang menyertai Musa lupa memberitahu Musa tentang ikan yang telah dihidupkan olah Allah. Hal ini membuat keduanya melakukan perjalanan lebih panjang dari yang diperlukan, namun Musa tidak menyalahkan dan memarahinya.
10.  Tidak semua hal yang diprediksi seseorang bisa melakukannya, dia  benar-benar melakukannya. Musa berkata kepada hamba shalih, "Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apapun." (Al-Kahfi: 69).  Kemudian terbuktilah kebenaran dugaan hamba shalih itu, bahwa Musa tidak mampu  bersabar.
11.  Hamba shalih ini melubangi perahu dan membunuh seorang anak. Dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya adalah dengan perintah dan kehendak Allah. "Sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukannya aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82). Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi siapapun  yang tidak memperoleh wahyu dari langit dan tidak menerima sedikit pun ilmu Allah untuk merusak, membunuh, dan membuat onar, dengan mengklaim bahwa perbuatannya itu mengandung hikmah yang tersembunyi. Hamba shalih itu bukan pengikut Musa, bukan pula pengikut Muhammad. Jika dia pengikut salah satu dari keduanya, niscaya dia tidak boleh melanggar syariat yang berlaku. 
12.  Siapa yang bertekad melakukan sesuatu di masa datang, hendaklah dia mengucapkan, "Insya Allah." Sebagai mana ucapan Musa, "Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Dan firman-Nya, "Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan melakukannya besok pagi. Kecuali dengan menyebut insya Allah." (Al-Kahfi: 23 -24).
13.  Di antara adab mencari ilmu adalah, hendaknya murid bersabar dan patuh kepada muallim(guru), "Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun." (Al-Kahfi: 69).
14.  Minimnya ilmu manusia di hadapan Allah. Hamba shalih itu berkata kepada Musa, "Ilmuku dan ilmumu di depan ilmu Allah hanyalah seperti yang diambil oleh burung itu dari laut."
15.  Seorang hamba kadang tidak menyadari hikmah di balik takdir Allah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Kemudian, terungkaplah baginya apa yang dia kira seabgai cobaan dan ujian, ternyata  adalah kebaikan dan nikmat. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pemilik perahu, dan dua orang tua anak yang dibunuh oleh Khidhir.
16.  Bisa saja Allah menyediakan kebaikan bagi anak karena kebaikan bapak. Hamba shalih itu meluruskan dinding demi menjaga kekayaan yang ditinggalkan oleh bapak shalih kepada anak-anaknya.
17.  Bersikap sopan kepada Allah dengan menisbahkan kebaikan kepada-Nya, "Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya." (Al-Kahfi: 82). Dan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. Hamba shalih tersebut menisbatkannya kepada dirinya sendiri, "Dan aku ingin merusaknya." (Al-Kahfi: 79). Dan pemuda yang bersama Musa menyandarkan kealpaan kepada syetan, "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63).
18.  Melakukan sesuatu yang berdampak negatif paling ringan demi menghindari perkara yang lebih buruk. Hamba shalih itu merusak perahu, untuk menjaa perahu, karena jika perahu itu dibiarkan tanpa cacat niscaya ia akan dirampas oleh raja yang gemar mengambil perahu yang baik.
19.  Merusak sebagian harta demi menjaga harta secara keseluruhan. Khidhir merusak perahu demi menjaganya, sebagaimana dokter memotong tangan yang sakit karena dikhawatirkan  penyakit itu akan menyebar ke seluruh tubuh pasiennya.
20.  Diperbolehkannya naik perahu, seperti yang dilakukan oleh Musa dan hamba shalih.
21.  Anjuran membawa  bekal dalam bepergian. Musa berkata kepada pemuda yang menyeratainya, "Siapkan makan siang kita." Jika keduaya tidak membawa makanan, niscaya Musa tidak akan meminta makanan. Sebagian orang di kalangan umat ini telah mengklaim bahwa membawa bekal di perjalanan, khususnya haji, termasuk menafikan tawakal. Mereka salah, karena Allah  telah meminta pada jamaah haji agar berbekal untuk safar mereka. "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal." (Al-Baqarah:197).
22.  Anjuran mencari makan jika di suatu kota terdapat tempat khusus untuk menjual makanan.
23.  Hadis ahad diterima dalam bidang akidah. Lain halnya dengan pendapat yang mengatakan hadis ahad tertolak di bidang akidah. Ibnu Abbas menerima hadis Ubay bin Kaab yang hanya seorang. Para murid Ibnu Abbas menerima  hadis Ibnu Abbas yang hanya seorang, dan berita-berita para nabi termasuk akidah.
24.  Kesalahan pendapat yang menyatakan bahwa Khidhir hidup sampai pada masa kini. Ini adalah pendapat tanpa dalil. Jika Khidhir hidup, dia pasti datang  kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan mengikutinya. Para ulama  besar seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Abu Faraj Ibnul Jauzi (rujuklah Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim, 67. Al-Bidayah wan Nihayah, 1/334, Al-Maudu'at, Ibnul Jauzi, 1/197) telah menyatakan bahwa hadis-hadis yang memberitakan kehidupan Khidhir, tidaklah shahih. Sebagian penulis banyak menukil kisah-kisah yang menunjukkan hidupnya, Khidhir dan semua kisah itu adalah batil.
25.  Hendaklah seseorang bersikap hati-hati dalam mengingkari orang yang berilmu lagi baik, dengan menanyakan alasan mereka yang diduga menyelisihi kebenaran. Musa melihat perbuatan hamba shalih itu salah, padahal sebenarnya benar.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 98-115.